OJK: 75% Masyarakat Belum Paham Literasi Keuangan

68
photo antaranews.com

JAKARTA-Pemahaman masyarakat Indonesia tentang literasi keuangan (financial literacy) ternyata masih kurang. Berdasarkan survey Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lebih dari 75% masyarakat  Indoneia memiliki pemahaman yang kurang tentang keuangan. “Ini merupakan fakta yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi kita. Pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi kita semua,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad saat. meluncurkan buku Seri Literasi Keuangan tingkat Perguruan Tinggi di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Selasa (23/8).

Padahal kata Muliaman, financial literacy saat penting bagi pertumbuhan maupun stabilitas ekonomi suatu negara. Hasil research dari ADB Institute menyebutkan hubungan yang positif antara income percapita dengan financial development. Dibeberapa negara Asia seperti, Jepang, Korea, Australia dan New Zaeland terlihat bahwa dengan GDP Perkapita yang tinggi maka selalu diiringin dengan tingkat financial development yang tinggi juga.

Hal ini  menegaskan Financial Literacy akan memiliki korelasi yang positif dengan economic development dan financial development.
Menurutnya, literasi keuangan menjadi perhatian di berbagai belahan dunia. Sebab, literasi keuangan yang memadai selain dipercaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, akan juga dapat mencegah terjadinya miss seling produk-produk keuangan yang merupakan salah satu penyebab terjadinya global financial crisis pada waktu itu.

Pengetahuan keuangan investor dan customer yang kurang memadai adalah pemicunya.   Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir ini, perkembangan produk dan layanan keuangan yang ditawarkan oleh industri jasa keuangan sangat pesar. “Produk-produk keuangan yang ditawarkan menjadi semakin kompleks. Belum lagi dengan semakin pesatnya perkembangan dunia FinTech yang menawarkan berbagai layanan dan produk keuangan yang sangat inovatif,” tuturnya.

Dia menjelaskan, perkembangan ini menuntut masyarakat harus memiliki pengetahuan keuangan yang memadai agar dapat mengambil manfaat dari produk dan layanan tersebut. Hal ini penting agar  tidak terjerumus pada kondisi yang malah merugikan mereka. “Salah satu strategi yang kami tempuh untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat adalah melalui dunia pendidikan. Menumbuh kembangkan ketrampilan, budaya, pola pikir, perilaku dan nilai-nilai dilakukan melalui dunia pendidikan. Oleh karena itu inisiatif ini menjadi prioritas kami,” tuturnya.

Sebagaimana survey yang dilakukan oleh Visa dalam publikasinya Visa’s International Financial Literacy Barometer 2012, Dari 28 negara yang di survey, lebih dari setengahnya percaya bahwa secara umum remaja  (teens and young adults) tidak memiliki pemahaman keuangan yang cukup. “Kemandirian keuangan seseorang lebih ditentukan oleh seberapa financially literate mereka, dan seberapa baik financial habits, financial practice dan financal discipline mereka. Tanpa itu, akan sulit mencapai kemandirian financial dan bahkan menjadikan mereka rentan terhadap penyalahgunaan produk dan jasa keuangan,” imbuhnya.

Sebelumnya, OJK meluncurkan buku Seri Literasi Keuangan tingkat Perguruan Tinggi. Peluncuran buku ini sebagai bentuk implementasi dari Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI), yang salah satu pilarnya mengamanatkan penyelenggaraan edukasi dan kampanye nasional literasi keuangan. “Peluncuran seri buku ini merupakan kelanjutan dari buku literasi keuangan yang sebelumnya telah diluncurkan oleh OJK untuk jenjang pendidikan SD (kelas IV dan V) dengan judul ‘Mengenal Jasa Keuangan’ dan jenjang SMP serta SMA (kelas X) dengan judul “Mengenal OJK dan Industri Jasa Keuangan”, kata Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S Soetiono di Jakarta, Selasa (23/8).