Omzet Menurun, Garuda Indonesia Terancam Bangkrut

Omzet Menurun, Garuda Indonesia Terancam Bangkrut

593
0
BERBAGI

JAKARTA-Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu meminta Meneg BUMN agar segera menganti Pilot in Command dan Copilot yang memimpin PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) saat ini. Alasannya, perfomance jajaran Direksi yang sekarang ini tidak mumpuni untuk menghindari ancaman Financial Crash terhadap perusahaan penerbangan pelat merah ini. “Segera selamatkan Garuda Indonesia yang merupakan Flag Carrier kebanggaan kita semua. Kondisinya kinia menuju ancaman kebangkrutan. Jangan sampai ujung-ujungnya harus disuntik lagi dengan Penyertaan Modal Negara,” ujar Ketua Umum  Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono di Jakarta, Kamis (8/9).

Tanda-tanda kebangkrutan Garuda Indonesia tercermin dari laporan kinerja PT Garuda Indonesia Tbk yang mengalami penurunan laba bahkan ancam bangkrut pun menghantui perusahaan penerbangan nomor 1 di Indonesia.

Omset Garuda Indonesia di triwulan II-2016 mengalami kerugian mencapai US$ 63.190,972. Hal ini dihitung dari pendapatan usaha sebesar US$ 1,764,003,595 sementara beban usaha sebesar US$ 1,812,934,041.  “Tentu saja ini akan menambah beban Kementerian BUMN untuk bertindak  dalam meyelamatkan Garuda Indonesia jika terus omsetnya menurun dan rugi terus,” jelasnya.

Dia mengaku, airlines bisnis memang tidaklah mudah untuk dimanajemeni karena airlines bisnis itu high cost low profit. Apalagi dinegara yang kurs mata uangnya terhadap US Dollar tidak stabil.

Sebab airlines bisnis di Indonesia sangat sensitive dengan volalitas nilai tukar kurs rupiah terhadap US dollar dan harga minyak dunia. “Dari seluruh biaya operasional airlines di Indonesia mulai dari sewa dan Kredit  pesawatnya ,kebutuhan maintenance ,repair nya ,spare part pesawatnya ,gaji crew nya serta pembayaran polis asuransinya semua dihitung dengan kurs US dollar sementara produk jasa penerbangan domestiknya dijual dengan nilai rupiah,” terangnya.

Namun demikian, dia melihat, rendahnya perfomance Garuda lebih banyak disebabkan oleh Miss Management di tingkatan Direksi Garuda Indonesia yang tidak mampu untuk mengurus perusahaan penerbangan tertua di Indonesia ini.

Meski, tidak bisa dipungkiri memburuknya kinerja Garuda juga erat kaitanya dengan pelemahan dkonomi dunia dan domestik yang meyebabkan penurunan omset Garuda akibat menurunnya jumlah penumpang domestik dan international yang mengunakan Garuda Indonesia. Bahkan banyak penumpang Garuda yang berpindah pilihan mengunakan penerbangan berbasis Budget air atau low cost carrier atas dasar harga tiket yang lebih murah dan bisa sampai tujuan.

Tetap bukan berarti Garuda harus turun omset penjualannya  menjadi alasan pokok. Sebab, penyebab utamanya Direksi Garuda. Jika jajaran direksi mempunyai kemampuan  inovasi dan bisa menciptakan efisiensi cost operasional maka persoalan Garuda tidaklah separah sekaang ini. “Jadi, jajaran direksi harus mampu memotivasi bagi para pekerjanya untuk menciptakan produk yang menarik dan memiliki realibility dan  on time performance yang tinggi,” terangnya.

Sementara itu, terkait dengan hutang Garuda yang cukup banyak pada kreditor Luar negeri maka manajemen garuda harus bisa melakukan negoisasi ulang agar Garuda tidak terganggu opersionalnya.  “Jika dalam keadaan ekonomi yang melemah dan daya beli masyrakat yang turun saat ini , Garuda harus bisa menciptakan produk baru yang terjangkau oleh  masyarakat penguna jasa penerbangan. Salah satunya dengan melakukan mix produk antara penerbangan berbasis premier dan budget air,”  pungkasnya.