Pabrik Smelter Alumina Segera Dibangun di Kalimantan Barat

102

JAKARTA-Kementerian Perindustrian terus mendorong program hilirisasi di industri berbasis mineral agar segera diimplementasikan. Hal ini sesuai UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (minerba) terkait kewajiban pengusaha untuk melakukan program peningkatan nilai tambah produk minerba dengan membangun pabrik pengolahan atau smelter di dalam negeri paling lambat tahun 2014. Hal tersebut disampaikan Sekjen Kemenperin Ansari Bukhari kepada wartawan seusai mendampingi Menteri Perindustrian menerima kunjungan CEO Harita Group Lim Gunawan Hariyanto di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (4/7).

Menurut dia, dalam pertemuan tersebut, CEO Harita Group melaporkan kepada Menperin bahwa joint venture antara Harita Group dengan perusahaan Hongqiao asal China yang bergerak di usaha pengolahan dan pemurnian bauksit sudah siap untuk memulai pembangunan tahap pertama pabrik smelter alumina di Ketapang, Kalimantan Barat. “Dalam pertemuan itu, mereka juga mengundang Bapak Menteri (Menperin) untuk meresmikan peletakan batu pertama pembangunan pabrik smelter tersebut pada pertengahan Juli 2013,” jelas dia.

Menperin kata dia menekankan agar pabrik smelter alumina yang merupakan perusahaan joint venture antara Harita Group (30% kepemilikan saham) dengan perusahaan asal China Hongqiao (70% kepemilikan saham) ini dapat memenuhi kebutuhan alumina dalam negeri sebanyak 500 ribu ton per tahun. “Kalau pabrik smelter ini sudah jalan merupakan pabrik pertama di dalam negeri yang memproses bauksit menjadi alumina. Selama ini mereka ekspor bauksit ke China. Hal ini sejalan dengan adanya Undang-Undang No. 4 tahun 2009 yang mewajibkan pengolahan dan pemur­nian minerba harus dilakukan di dalam negeri, mereka mendukung aturan tersebut,” imbuh dia.

Selain itu, kata Sekjen, pihak Harita Group juga mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas tax holiday dan dukungan ketenagakerjaan. “Pengajuan tersebut kami akan pelajari sesuai aturan yang berlaku dan pada prinsipnya kami akan terus dukung program hilirisasi minerba agar bisa segera dilaksanakan”. Diharapkan, melalui pembangunan smelter alumina dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat struktur industri alumunium yang terintegrasi antara industri hulu dan hilir.

Sementara itu, CEO Harita Group Lim Gunawan Hariyanto mengatakan, nilai investasi pembangunan pabrik diprediksi mencapai US$ 1 miliar dengan memiliki total kapasitas dua juta ton alumina yang akan dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama ditargetkan selesai pada pertengahan 2015 untuk produksi alumina sebanyak satu juta ton dan satu juta ton lagi pada tahap kedua yang diharapkan selesai tahun 2016. “Alumina tersebut akan kami prioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama untuk suplai ke PT Inalum. Kalau ada sisanya, baru kami ekspor. Harga akan disesuaikan market. Sedangkan, target penyerapan tenaga kerja sebanyak dua ribu orang,” pungkas dia.