PAL Siap Produksi Kapal Pembangkit Listrik

PAL Siap Produksi Kapal Pembangkit Listrik

75
0
BERBAGI
katadata.co.id

JAKARTA-PT PAL Indonesia (Persero) menggandeng Karadeniz Holding dan anak usahanya, PT Karpowership Indonesia guna memproduksi kapal pembangkit listrik. BUMN perkapalan itu mulai mengembangkan pembangunan kapal pembangkit. “Kami akan bikin kapal yang lebih besar dengan teknologi canggih dan dua jenis bahan bakar minyak dan gas,” kata Direktur Utama PT PAL Firmansyah Arifin di Jakarta, Rabu (4/1/2017)

Perusahaan pelat merah ini pernah membikin kapal pembangkit listrik berjenis barge, dengan kapasitas 30 megawatt (MW). Adapun kerjasama dengan PT Karpowership akan berlangsung tujuh tahun dengan target proyek pembangunan kapal pembangkit berkapasitas total 5.000 MW.

Lebih jauh kata Firmansyah, pembangunan teknologi kapal ini akan menggunakan tenaga solar dan juga gas. Kapasitas kapal pembangkit yang dibangun berbeda-beda, mulai dari 60 MW sampai 240 MW. “Terkait prototipe kapal, nanti akan mengikuti desain kapal pembangkit milik Karpowership yang sudah beroperasi di Amurang dan Kupang,” tambahnya.

Sebagai perusahaan galangan kapal, PT PAL tidak kesulitan membangun kapal pembangkit tersebut. Hanya saja, ada teknologi yang harus mereka persiapkan. Maka itu, PAL mesti menggandeng mitra yang berpengalaman. “Kapal yang diproduksi nanti tak hanya untuk pasar dalam negeri, tapi juga ekspor,” jelasnya.

Firmansyah menjelaskan, permintaan kapal pembangkit terbilang tinggi, termasuk di Asia Tenggara, Afrika dan Eropa.
Untuk merealisasikan proyek kapal pembangkit listrik berkapasitas 5.000 MW, Firmansyah berharap bisa rampung dalam 7 tahun.

Adapun kapal hasil produksi diharapkan bisa diserap di dalam negeri atau ekspor Untuk pasar domestik, kapal pembangkit PAL cocok untuk wilayah terluar atau kepulauan.

Adapun dari sisi pangsa pasar, kapal pembangkit milik PAL bisa untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Agar proses pembangunan kapal segera rampung, Firmansyah bilang ada opsi joint venture dengan perusahaan berkompeten.

Soal produksi Firmansyah bilang, tak ada kendala yang berarti. Meski bahan baku impor 70%, pasokan bahan bakunya terbilang lancar. “Untuk senjata dan teknologi, kami dibantu oleh BUMN lain,” kata Firmansyah. ***