Pasar Beringharjo “Go International”

Pasar Beringharjo “Go International”

0
BERBAGI
Photo: Trilingga Yanmottama, Antoni Nugroho dan Gunawan Nugroho Utomo

YOGYAKARTA-Pasar Beringharjo memastikan diri untuk “Go International” sebagai destinasi utama wisata di Yogyakarta dengan target wisatawan asing. Beringharjo akan mengembalikan dirinya sebagai Eender Mooiste Passers (Markten) Op Java yaitu predikat sebagai pasar terindah di Pulau Jawa yang pernah disandangnya pada masa lampau. Dengan langkah ini diharapkan juga, Beringharjo sekaligus akan meningkatkan pendapatan para pedagang tradisional yang berada di situ.

Demikian ditegaskan Kepala UPT Bisnis Beringharjo (Pengelola Pusat Perbelanjaan Beringharjo) Gunawan Nugroho Utomo SE Akt, CA. MM kepada media, Selasa (4/10).

Pernyataan tersebut menyusul ditandanganinya kerjasama pembuatan Promotion Plan dan Komunikasi Publik  “Beringharjo Untuk GO INTERNATIONAL” antara  Pusat Perbelanjaan Beringharjo yang diwakili oleh Gunawan Nugroho Utomo dan Avocado – Media Corner (Omah Media) yang diwakili Antoni Nugroho serta AM Putut Prabantoro.

Menurut Gunawan, langkah ini merupakan lompatan Beringharjo dalam menghidupkan pasar  yang tidak hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan keseharian tetapi terlebih juga sebagai destinasi wisata. Konsekuensi dari program Pasar Beringharjo “Go International”, pengelola akan menata pasar lebih indah lagi dan layak jual  agar target mendatangkan wisatawan luar negeri ke pasar tersebut tercapai. “Kami mengawali program ini dengan kembali ke sejarah dan riset bangunan pasar secara mendetail. Program yang dilaksanakan adalah persiapan pementasan ketoprak dengan judul Babad Beringharjo. Judul ini dipilih sebagai bagian terpenting tradisi oral dan pertunjukan dalam membangun citra Beringharjo sebagai destinasi wisata,” ujarnya.

Gunawan menjelaskan telah merencanakan berbagai program yang akan dilaksanakan. Pementasan ketoprak Babad Beringharjo merupakan salah satu seni pertunjukkan dan berbagai pertunjukan yang sifatnya rutin dengan melibatkan berbagai sanggar masyarakat di Yogya.  Pengelola juga akan melibatkan masyarakat dalam memperindah bangunan dalam seperti lomba melukis interior dengan thema yang sudah ditetapkan panitia.

Pusat Perbelanjaan Beringharjo, demikian ditambahkan Gunawan, juga merencanakan pembuatan buku tentang Beringharjo dengan judul “Beringharjo Nafas Yogyakarta (The Breath of Yogyakarta)” yang dibuat berdasarkan riset, survai dan juga wawancara para pelaku sejarah. Buku itu yang dibuat dalam waktu satu tahun itu, akan melibatkan masyarakat pedagang, Perguruan Tinggi, sekolah SMA, Saksi Sejarah dan juga wartawan. Trilingga Yanmottama Amd. dari Pengelola Pusat Perbelanjaan Beringharjo ditunjuk sebagai Ketua Tim Penyusunan buku.

Pasar Beringharjo awalnya adalah sebuah hutan beringin yang terkesan angker. Sejalan dengan berdirinya Kraton Jogyakarta pada 1756, tempat itu  kemudian berkembang menjadi tempat jual beli tradisional.  Nama Beringharjo muncul pada saat bertahtanya Sultan Hamengkubuwono VIII pada 24 Maret 1925.

Nama itu diberikan secara resmi kepada pasar tradisional tersebut dengan harapan bahwa hutan beringin tersebut (beringin) akan mampu memberi kesejahteraan kepada warga Yogyakarta (harjo).
Pasar ini memiliki arti penting dalam posisi keterhubungan dengan Tugu dan terletak di jalan utama dan berada satu garis lurus dengan tugu. Dulunya jalan utama Beringharjo – Tugu yang sekarang disebut Jalan Malioboro merupakan jalan dua arah.

Oleh sebab itu, jalan di depan pasar Beringharjo ke arah Tugu dinamai Margotomo dan jalan di depan toko Terang Bulan menuju Titik Nol (seberang Beringharjo)  disebut Margomulyo. Nama-nama jalan tersebut memiliki makna filosofi bagi kehidupan manusia.