Pelaku Pasar Menunggu Hasil FOMC

43

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (19/6) diperkirakan melemah karena  pelaku pasar melihat kepastian soal arah kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS). “Rupiah diperdagangkan di kisaran 9.900-9.940 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar analis valas PT Bank Saudara Tby, Rully Nova di Jakarta, Selasa (18/6).

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah lebih dominan disebabkan oleh faktor eksternal.  Pelaku pasar global masih menunggu, apakah kebijakan quantitative easing dilanjutkan atau direvisi. “Rabu malam atau Kamis Kamis (20/6/2013) dinihari WIB, The Fed akan mengadakan pertemuan,” kata dia.

Dia mengatakan, hasil pertemuan Federal Open Market Committee  (FOMC) menentukan suku bunga dan kebijakan di AS. “Hasil pertemuan ini mempengaruhi pergerakan rupiah,”  kata dia.

Selain itu jelas dia, perlu diwaspadai juga terhadap investor asing yang masih berusaha keluar dari negara berkembang (emerging markets) hingga situasi menjadi lebih jelas terhadap kebijakan moneter Fed.

Dari dalam negeri kata dia, rupiah masih tertekan karena secara keseluruhan pasar masih menunggu untuk melihat kondisi Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir tahun apakah masih positif di atas rata-rata negara berkembang lainnya atau tidak. “Jika ini sudah terkonfirmasi, barulah nanti mungkin hot money akan kembali ke pasar,” ucap dia.

Lebih lanjut dia mengatakan kondisi defisit neraca berjalan masih  membayangi pergerakan rupiah. “Jadi, faktor eksternal dan internal memberikan tekanan negatif bagi rupiah,” tutur dia.

Meskipun demikian, kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi memberi sedikit kelegaan bagi rupiah. Keputusan ini mengurangi situasi ketidakpastian di pasar uang yang terjadi selama ini. “BI mungkin terus melakukan intervensi untuk menjaga agar pelemahan rupiah tidak melewati  10.000 per dollar AS,” pungkas dia.