Peluang Perang Dagang, Ekspor Karet dan TPT Perlu Dioptimalkan ke AS

37
kompas

JAKARTA- Amerika Serikat masih menjadi negara prioritas bagi ekspor produk Indonesia berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan pada tahun 2018 sehingga perlu dioptimalkan untuk lebih memperkecil defisit neraca perdagangan nasional. Karena itu, perang dagang antara China dan Amerika yang terjadi saat ini juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.

“Pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia perlu terus dioptimalkan agar penetrasi produk-produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat dapat memperkecil defisit neraca perdagangan yang ada saat ini,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan dalam keterangan resminya, di Jakarta, Senin, (17/6/2019).

Saat ini, selisih perdagangan bilateral Indonesia dan Amerika sudah mencapai 12,6 miliar dollar AS. Untuk itu, dia juga mengingatkan pemerintah Indonesia lebih berhati-hati agar peluang ini tidak menjadi bumerang karena dikhawatirkan akan menyebabkan Amerika mencabut mekanisme generalized system of preferences (GSP) terhadap Indonesia.

Terlebih baru-baru ini Indonesia juga kalah dalam kasus pengenaan trade remedy oleh Amerika yang berdampak signifikan bagi ekspor produk kertas ke negeri Paman Sam tersebut.

Pingkan menjelaskan pada semester pertama tahun 2018, enam dari sepuluh komoditi utama ekspor Indonesia menempatkan Amerika sebagai negara tujuan.

Pada posisi teratas ditempati oleh industri tekstil dan produk tekstil (TPT), karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao dan kopi, selanjutnya komoditi hasil hutan menempati posisi ketiga dan posisi kesembilan untuk komoditi sawit dengan total nilai ekspor kedelapan komoditi tersebut mencapai 5,5 juta dollar AS.

“Indonesia sebaiknya mengoptimalkan ekspor pada komoditas TPT, karet dan produk karet untuk memasuki pasar Amerika Serikat selama perang dagang berlangsung. Menimbang bahwa kedua komodias tersebut menempati pos ketiga terbesar bagi komoditas ekspor China ke Amerika,” kata Pingkan.

Selain itu, menurut Pingkan, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas dengan proses pengolahan agar menambahkan nilai pada komoditas yang diekspor, misalnya untuk kakao yang menempati posisi pertama dalam komoditas utama ekspor Indonesia.

Keuntungan yang didapatkan dari ekspor kakao akan lebih tinggi jika Indonesia melakukan ekspor tidak hanya pada level bahan mentah.

Pemerintah juga diharapkan memiliki peta jalan mengenai perdagangan internasional yang jelas untuk menjalankan strategi perdagangan yang tepat, terutama saat kondisi ekonomi Indonesia seperti sekarang yang terdampak perang dagang antara dua negara besar.

“Dengan adanya road map yang jelas, diharapkan pemerintah bisa mengetahui dengan jelas produk atau komoditas ekspor mana yang dapat diintensifkan ke negara mitra yang memiliki pasar potensial,” ujar Pingkan.