Pembentukan Holding Migas Mampu Hemat Rp 20 Triliun

30

JAKARTA-Pembentukan holding migas yang menggabungkan Pertamina dan PGN diyakni mempu membuat penghematan sekitar Rp20 triliun. Dengan cari holding ini makan harga gas bisa lebih murah. “Menghitung ada penghematan sebesar US$ 1,5 miliar atau Rp 20,19 triliun (kurs Rp 13.456) dalam 5 tahun ke depan jika kedua perusahaan tersebut diintegrasikan,” kata Deputi Bidang Usaha Energi Logistik Kawasan dan Pariwisata, Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah di Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Menurut Edwin, dari total efisiensi yang kita hitung sampai 5 tahun ke depan dengan plan kita, efisiensi biaya yang bisa terjadi US$ 1,5 miliar. Ini baru 2 perusahaan saja. Efisiensi tersebut muncul dari penggunaan infrastruktur gas secara bersama-sama antara PGN dan Pertamina.

Meski sama-sama perusahaan pelat merah, kata Edwin, di lapangan kedua perusahaan tersebut kerap berselisih yang dampaknya membuat pembangunan infrastruktur gas terhambat. “Contohnya tender pipa open access di Dumai yang menang PGN,” tegasnya.

Hal ini, lanjut Edwin, selama 13 tahun tidak membangun infrastruktur baru. Karena suplai gasnya dari Pertamina. “Akhirnya ketika Pertamina punya pasar sendiri setelah upgrade kilang, dia singkirkan PGN di tender berikutnya dan bangun pipa sendiri,” paparnya

Beberapa hari lalu, Menteri BUMN Rini Soemarno memang mendorong PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) sebagai 2 BUMN energi terbesar meningkatkan sinergi. Penguatan kerja sama antara keduanya, sambung Rini, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Energi, salah satunya listrik, adalah pendorong perekonomian. Sinergi Pertamina dan PLN dapat membuat biaya produksi listrik lebih murah. “Energi adalah darahnya perekonomian. Sinergi 2 perusahaan raksasa, yaitu PLN dan Pertamina harus ditingkatkan. Kita butuh migas, tapi juga butuh listrik sehingga bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, termasuk harga yang terjangkau,” ujarnya

Pertamina dan PLN diminta melakukan upaya-upaya efisiensi biaya bahan bakar untuk pembangkit-pembangkit listrik yang memakai gas dan BBM. “PLN itu dalam memproduksi listrik itu ada power plant yang pakai gas, juga BBM di tempat-tempat remote. Harus bisa sinergi agar cost transportasinya murah, pipa gasnya ada di mana, lokasinya di mana supaya biaya energi primer bisa lebih turun,” ucap Rini.

Salah satu bentuk kongkrit sinergi PLN dan Pertamina lainnya adalah di bidang pengembangan panas bumi. Rini memerintahkan Pertamina dan PLN bersama-sama membesarkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). “Mengenai PGE, ini kan perusahaan yang berkecimpung di geothermal. Uapnya (panas bumi) hanya bisa dipakai untuk listrik, nggak bisa dijual ke mana-mana lagi. Kalau Pertamina mengebor, terus PLN bilang nggak mau beli uapnya, bagaimana? Karena itu tolong bekerja sama. PGE mungkin mengeluarkan saham baru, di situ PLN ikut,” pungkasnya. ***