Pemerintah Harus Berani Merger Bank BUMN

50

JAKARTA-Pemerintah harus berani mengambil langkah strategis menggabungkan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  terutama bank yang banyak memiliki kesamaan dalam eksposur kredit korporasi.  Merger bank BUMN menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi tawar Indonesia menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) pada 2015 mendatang.  “Memperbesar modal bank lokal merupakan salah satu cara agar bisa bersaing dengan bank asing.  Kalau modal bank kita tidak kuat, pasti kita kalah bersaing. Prinsipnya, kita harus jadi tuan di negeri sendiri dan negeri ini jangan hanya dijadikan sebagai target pasar pihak asing,” kata  anggota Komisi XI DPR, Maruarar Sirait di Jakarta, Senin (20/5).

Menurut dia, penetrasi pasar perbankan asing kian mengkhawatirkan. Bank asing berlomba-lomba  karena potensi pasarnya sangat besar.  Bahkan beberapa kantor cabang bank asing sudah masuk hingga ke pelosok Indonesia. Jika struktur permodalan bank nasional masih kecil maka potensi pasar yang besar ini akan dikuasai asing.

Saat ini kata dia perbankan nasional sulit bersaing dan terkesan dijajah bank-bank asing di Indonesia akibat minimnya struktur permodalan.  Karena itu, merger menjadi pilihan terbaik. “Kita harus konsolidasi. Disaat ekonomi kita kuat, kita lakukan merger untuk memperkokoh permodalan bank-bank kita,” jelas dia.

Sejauh ini, jelas Maruarar, ruang gerak bank-bank BUMN sangat dibatasi oleh pemerintah dan regulator perbankan di luar negeri. “Di Shanghai, Bank Mandiri tidak boleh bermain dengan mata uang China dan BNI juga kesulitan membuka cabang di negara lain,” ujar dia.

Kondisi tersebut, kata dia, justru bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia.  Di Indonesia, bank asing leluasa melakukan ekspansi hingga daerah. “Kita bukan anti asing, tetapi beri karpet merah kepada investor kita. Kalau kita memberi kelonggaran kepada bank asing, maka pemerintah harus mengupayakan agar mereka juga bisa memberikan kelonggaran buat bank kita,” papar Maruarar.

Menjelang pemberlakuan AEC 2015, ujar Maruarar, seharusnya pemerintah mampu untuk menggabungkan Bank Mandiri dengan BNI dan Bank BRI dengan Bank BTN. Perlunya ditempuh upaya merger bank BUMN tersebut, terang dia, berkaitan dengan usaha mengatasi kendala permodalan yang selama ini dikeluhkan bank BUMN, ketika akan bersaing di lingkup regional. “Jadi, sekarang ini kita harus berpikir untuk membuka banyak cabang di Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam atau pun sejumlah negara di ASEAN lainnya. Industri perbankan kita jangan hanya berfikir untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi harus berani merambah ke negara lain,” tutur dia.