Pemerintah Siapkan Jurus Strategis di Sektor Industri

18

SWISS-Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah Indonesia sedang menjalankan kebijakan strategis di sektor industri guna memperkuat perekonomian nasional. Jurus itu meliputi peningkatan produktivitas dan daya saing, menggenjot nilai ekspor produk manufaktur, dan penguatan atau pendalaman struktur industri.

“Langkah yang berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0 tersebut, kami yakini akan dapat mendongkrak produk domestik bruto (PDB) secara umum, kontribusi menufaktur dan kesempatan kerja,” tutur Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela menghadiri perhelatan 2019 World Economic Forum Annual Meeting di Davos, Swiss, Kamis (24/1).

Melalui penerapan Making Indonesia 4.0, ditargetkan pertumbuhan PDB akan menyentuh hingga 1-2 persen, kemudian membuka lebih dari 10 juta lapangan kerja tambahan, dan kontribusi manufaktur mencapai 25 persen terhadap PDB.

Aspirasi besarnya adalah Indonesia masuk sebagai 10 negara yang punya perekonomian terkuat di dunia pada tahun tahun 2030.

Guna meraih sasaran tersebut, Kemenperin memacu lima sektor yang akan menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0. Lima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika.

“Selama tahun 2015-2018 lalu, Indonesia menikmati pertumbuhan pesat di lima sektor manufaktur tersebut. Kami memproyeksi pertumbuhan itu akan berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya,” kata Airlangga.

Apalagi, selama ini, industri manufaktur menjadi penggerak perekonomian Indonesia melalui peningkatan produktivitas, investasi dan ekspor.

Kementerian Perindustrian mencatat, sektor industri pengolahan nonmigas periode tahun 2015-2018 mengalami kinerja positif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,87 persen dan masih sebagai sektor yang berkontribusi paling besar terhadap PDB nasional, dengan setoran hingga 17,66 persen pada tahun 2018.

Sejalan capaian itu, Kemenperin pun terus mendorong pendalaman struktur industri di dalam negeri melalui upaya menarik investasi agar semakin meningkat, yang juga bertujuan untuk mensubstitusi produk impor.Investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018.

Dampak positif investasi adalah terbukanya lapangan pekerjaan yang luas. Hingga saat ini, sektor industri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 18,25 juta orang. Jumlah tersebut naik 17,4 persen dibanding tahun 2015 di angka 15,54 juta orang.

Selain itu, industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional hingga 73 persen. Nilai ekspor industri pengolahan nonmigas diproyeksi menembus USD130,74miliar pada tahun 2018.

Capaian ini meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesarUSD125,10 miliar.

“Kami juga mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk memanfaatkan e-commerce melalui e-Smart IKM. Ini menjadi salah satu program dalam inklusivitas ekonomi digital yang terbukti memberdayakan IKM,” ujarnya.

Dengan jumlah 260 juta penduduk dan menjadi populasi terbesar di ASEAN, Indonesia dinilai berpotensi menumbuhkan ekonomi digital paling tinggi. “Dengan pertumbuhan pasar yang pesat, dan adanya bonus demografi juga, menjadikan e-commerce sebagai kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia selanjutnya,” pungkas Menperin.