Pemilih PDIP Cukup Solid Dukung Ahok

Pemilih PDIP Cukup Solid Dukung Ahok

0
BERBAGI

JAKARTA-Partai Nasdem, Hanura, dan Golkar telah memberikan dukungan politik kepada Basuki Tjahja Purnama pada pilgub DKI Jakarta nanti. Pemilih Nasdem paling solid mendukung Ahok, kemudian Golkar dan Hanura.

Adapun pemilih PDI Perjuangan, partai terbesar di Jakarta juga sementara ini cukup solid memberikan dukungan kepada Ahok.

Demikian hasil Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 29 Juni 2016.

Direktur Program SMRC, Sirojudin Abbas menjelaskan jika pemilu dilakukan saat ini, PDI Perjuangan paling banyak dipilih (25,6%), kemudian Gerindra, PPP, PKS, Golkar, Demokrat, NasDem dan partai lain di bawah 3%. Dibanding pileg 2014, dukungan kepada partai umumnya menurun.

Sejauh ini, pemilih partai sudah mempunyai kecenderungan kepada siapa dukungan akan diberikan.

Partai yang pemilihnya lebih banyak memilih calon lain adalah PPP, PKS dan PAN, ketiganya cenderung untuk memilih Yusril Ihza Mahendra. “Ini menarik karena ketiganya adalah partai berbasis Islam,” terangnya.

Sementara pemilih PKB masih membagi dukungan sama besar kepada Ahok dan Yusril Ihza Mahendra.

Menurutnya, sentimen kepartaian dalam memilih biasanya akan lebih jelas bila partai sudah jelas mencalonkan siapa. Misalnya, PDI Perjuangan diberitakan akan memutuskan mendukung siapa dalam minggu ini. “Dan itu dipastikan bisa mengubah dukungan kepada calon secara keseluruhan,” tuturnya.

Dari hasil analisis regresi multinomial logit, yang berpengaruh secara signifikan terhadap dukungan kepada ketiga bakal lawan Ahok (Sjafrie Sjamsoeddin, Tri Rismaharini dan Yusril Ihza Mahendra) hanya ada dua variabel, yaitu penilaian terhadap kinerja Ahok sebagai gubernur petahana dan isu agama.

Penilaian positif atas kinerja Ahok sebagai petahana memperlemah dukungan kepada ketiga bakal lawan Ahok.

Sementara semakin setuju dengan opini/pendapat yang menyatakan Muslim tidak bisa dipimpin non-Muslim akan memperkuat dukungan kepada ketiga lawan Ahok.

Kendati demikian, ada beberapa variabel lain yang berpengaruh signifikan kepada salah satu atau dua calon bakal lawan Ahok. “Umur dan pendidikan pemilih  berpengaruh positif pada Sjafrie Sjamsoeddin ketika ia bersaing dengan Ahok. Orang yang berpendidikan lebih baik dan lebih senior dari sisi umur cenderung memilih Sjafrie dibanding memilih Ahok, dan demikian juga sebaliknya,” imbuhnya.

Sementara itu, ketika persaingan terjadi antara Risma dan Ahok, penilaian terhadap kondisi ekonomi Jakarta dan pendidikan pemilih berpengaruh.

Penilaian positif atas kondisi ekonomi DKI memperlemah Risma, dan sebaliknya memperkuat Ahok. “Sementara pendidikan efek positifnya terhadap Risma,” ulasnya.

“Tetapi, kalau persaingan antara Ahok dan Yusril, di samping isu agama dan kinerja petahana, jender juga berpengaruh. Pemilih laki-laki, dibanding perempuan, cenderung memilih Yusril ketimbang memilih Ahok, dan demikian juga sebaliknya,” pungkasnya.