Pemotongan APBNP Rp 133,8 Triliun, Negara Sudah ‘Mangkrak’

Pemotongan APBNP Rp 133,8 Triliun, Negara Sudah ‘Mangkrak’

0
BERBAGI
Direktur Eksekutif EWI, Ferdinand Hutahaean

Oleh: Ferdinand Hutahaean

Masuknya Sri Mulyani Indrawati dalam kabinet kerja Jokowi pada resufle tahap kedua justru membuka tirai gelap yang selama ini digunakan pemerintah menutupi kegagalan demi kegagalan yang tak mampu diselesaikan. Kehadiran yang menyingkap tabir hitam yang selalu digunakan menyembunyikan masalah bangsa yang tidak pernah bisa ditemukan solusinya oleh kabinet Jokowi.

Terlalu banyak kata-kata hiperbolis yang keluar dari rejim ini mengelabui rakyatnya yang dulu berharap banyak pada sosok Jokowi. Fakta saat ini, kondisi negara bahkan jauh lebih buruk dari masa lalu yang selalu disalahkan Jokowi dengan kata “mangkrak” yang selalu diucapkan seolah Jokowilah yang telah menyelesaikan masalah bangsa yang terbengkalai selama ini dan tidak tertangani.

Ternyata saat ini situasi kita jauh lebih buruk dari masa lalu itu. Seburuk-buruknya masa lalu, rakyat masih mendapat subsidi.
Dicabutnya subsidi BBM dariAPBN yang nilainya cukup besar pada awal rejim Jokowi berkuasa ternyata tidak mampu juga dijadikan sebagai ajang kebangkitan ekonomi.

Lebih dari Rp 270 Triliun subsidi BBM yang tadinya akan hangus terbakar ternyata tidak bisa dimamfaatkan rejim Jokowi secara benar. Tidak bisa dibayangkan andai tadinya subsidi itu tidak dicabut, mungkin negara ini sudah bangkrut. Namun karena rakyat masih berharap pada Jokowi, akhirnya kontroversi pencabutan subsidi itu menjadi lolos tanpa hempasan politik kepada Jokowi. Sayang kepercayaan masyarakat tersebut ternyata sia-sia.

Memasuki tahun kedua rejim Jokowi, saat APBNP 2016 sudah disahkan oleh DPR, terjadilah kegemparan dengan masuknya Sri Mulyani Indrawati kedalam kabinet. Dengan lantang Sri Mulyani Indrawati yang kini menjabat Menkeu menyatakan penyusunan APBN tidak kredibel, terlalu tinggi dalam target atau bahasa rakyatnya terlalu muluk-muluk. Maka keluarlah kebijakan menkeu untuk mengoreksi APBNP dengan instruksi pemotongan anggaran senilai Rp 133,8 Triliun.

Mencengangkan, ketika Jokowi selalu bicara ekonomi meroket dan harapan tinggi Tax Amnesty, ternyata kehadiran Sri Mulyani Indrawati dengan segala kebijakannya secara langsung atau tidak langsung turut mengamini pendapat kami bahwa Tax Amnesty itu hanya ilusi. Halusinasi yang memabukkan. Ternyata memang rejim mencoba mengatasi defisit anggaran dengan ilusi. Entah tidur beralas apa rejim ini hingga bermimpi mendapat uang banyak dengan cara mudah.

Malukah Jokowi? Terpukulkah Jokowi? Mungkinkah Jokowi sekarang merasa salah dengan segala janji – janji kosongnya selama ini? Apapun itu, Sri Mulyani Indrawati  yang kita anggab neolib itu telah menyibak tabir gelap dan hitam negara ini. Kehadiran Sri Mulyani Indrawati secara gamblang telah membuktikan bahwa pernyataan Jokowi selama ini tentang ekonomi dan paket-paket ekonominya adalah sekedar tabir hitam menutupi kegagalannya dan sekedar upaya mempertahankan kekuasaannya.

Terimakasih Sri Mulyani Indrawati , kehadiranmu jelas tegas menyatakan bahwa negara ini memang benar sudah mangkrak. Selamat bertugas Sri Mulyani Indrawati , kejujuran anda bermamfaat bagi bangsa, semoga anda bisa membiasakan kejujuran ditengah rejim ini.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) di Jakarta