Pemuda Tani Ajak Mahasiswa Kembangkan Bisnis Pertanian

17

JAKARTA-Bisnis pertanian bakal menjadi industri yang prospektif. Karena itu wirausaha pertanian dinilai sebagai investasi masa depan. Bahkan bisa dilakukan berawal dari sekedar hobi. “Menekuni wirausaha bidang pertanian juga harus berani ambil resiko dan keputusan,” kata Ketua Harian Pemuda Tani Indonesia, Suroyo usai Dialog Tani Nasional bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Agribisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syahid) bertema “Ayo Bertani, Pertanian Investasi Masa Depan” di Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Dialog ini adalah rangkaian kegiatan dialog ke-6 yang diselenggarakan Pemuda Tani Indonesia dari kampus ke kampus dalam agenda peringatan HUT Pemuda Tani ke 32. “Anak-anak muda ditantang menjadi pebisnis handal dalam sektor pertanian yang menggunakan teknologi,” tambahnya usai menjadi pemandu diskusi.

Sementara itu, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Dr. Agus Salim, M.Si menegaskan saat ini Indonesia sedang memasuki revolusi industri 4.0 yang berbasis IOT (Internet of Think), termasuk bidang pertanian. “Saya pernah ke Korea dan melihat bagaimana majunya industri pertanian di sana dengan teknologi tinggi,” terangnya.

Menurut Agus, petani mengelola lahan yang sangat luas secara efisien. Karena ditunjang teknologi maju, seperti kontrol lahan, pengairan, pemupukan dan lain-lainnya dengan menggunakan teknologi yang maju. “Kita juga bisa seperti itu, kita bisa menjadi pelopor petani modern,” ucapnya lagi.

Sedangkan Sekretaris Program Studi Agribisnis Dr. Iwan Aminudin berharap ajakan bertani terhadap kalangan anak muda mesti direspon positif. Karena bisnis sektor pertanian sangat menggiurkan. Hadir pula sejumlah pengusaha pertanian, Eva Tristianto sebagai pengusaha bunga anggrek yang beromzet diatas Rp1 Miliar, kemudian Johan Setiawan sebagai pengusaha kuliner.

Menurut Eva, bisnis anggrek awalnya adalah hobi keluarga. Namun kemudian bisnis ini menjadi usaha yang serius. “Saya juga sarjana pertanian dan belajar tentang pertanian, kebetulan keluarga juga sudah menekuni anggrek ini, saya ingin berwirausaha di bidang ini karena prospeknya sangat bagus,” ungkapnya.

Sedangkan Johan, yang menggeluti kuliner mengaku bisnis pertanian harus berani mengambil resiko dan keputusan. Karena penuh dengan tantangan yang cukup besar. “Saya dulu bekerja di perbankan, lebih tepatnya mungkin tersesat di perbankan,” kenangnya.

Dalam perjalanan bisnisnya, lanjut Jogan, akhirnya dirinya memberanikan diri berwirausaha kuliner. “alhamdulillah penghasilan saya lebih tinggi daripada gaji saya di Bank. Pada Desember 2018, ini saya akan membuka cabang yang ke-tiga,” ungkapnya.

Selanjutnya Dewi Rahmawati sebagai akademisi Agribisnis UIN Jakarta menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi dalam menumbuhkan wirausahawan baru bidang pertanian ini adalah masalah pola pikir. “Seharusnya pemuda dari desa yang belajar di kota kembali ke desa untuk membangun, bukan bertahan di kota dan menjadi pekerja,” paparnya. Padahal, kata Dewi, kuliah adalah investasi masa depan dan bisa memberikan dampak dalam membangun desa dengan teknologi terbarukan dan lebih modern di desa-desanya. “Jangan sampai mahasiswa agribisnis yang sudah lulus masih bertahan di kota dan menjadi pekerja. Padahal sebenarnya dia adalah investasi dalam membangun desanya,” jelasnya lagi.

Disisi lain, Boni dari Otoritas Jasa Keuangan yang hadir dalam diskusi tersebut menceritakan dirinya pernah menawarkan pekerjaan kepada CEO Bukalapak Ahmad Zaky sebagai programmer. Bahkan tawaran itu dengan gaji dua kali lipat gaji programmer saat itu. Namun Zaky menolak tawaran tersebut. Alasanya mau fokus berwirausaha. akhirnya Bukalapak yang didirikannya sekarang menjadi Start up yang sukses. Terkait masalah pendanaan, kata Boni, sekarang sudah banyak Fintech yang memfasilitasi permodalan wirausahawan baru. Hanya saja tetap harus berhati-hati dalam meminjam dan harus terencana. ***