Pendukung Ahok Gelar Doa Rutin Setiap Tanggal 9 Hingga Bebas

Pendukung Ahok Gelar Doa Rutin Setiap Tanggal 9 Hingga Bebas

0
BERBAGI
Akademisi UI, Ade Armando, MSc., bersama pengacara Ahok,I Wayan Sudirta

JAKARTA-Genap dua bulan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjalani masa tahanan di Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Sejumlah komunitas pendukung Ahok yang mengatasnamakan dirinya “Masterpiece NKRI Pancasila” melaksanakan sebuah diskusi dan doa bersama untuk Ahok di sebuah tempat di Jalan Gunawarman Kebayoran Baru Jakarta Selatan Selasa 9 Juli 2017. Mengambil tema “Refleksi dan keprihatinan kasus Ahok dan kebebasan berbicara/berpendapat” dengan sub tema “Doa Dan Keprihatinan Untuk Ahok”.

Menurut mereka acara ini akan terus dilakukan setiap tanggal 9 sampai masa tahanan Ahok berakhir.

Acara doa bersama untuk Ahok ini merupakan wujud solidaritas pendukung Ahok, secara bergilir doa dipimpin oleh tiga orang seperti Yulianto  dari Muslim, Yoram dari Kristen, dan Deka dari Hindu.

Mereka secara bersama-sama mendoakan Ahok, agar Ahok dalam menjalanin masa tahanan selalu dalam kondisi sehat dan diberikan kekuatan serta keluarga selalu diberikan ketabahan dalam menjalani segala cobaan, karena yakin bahwa keadilan itu pasti akan datang pada waktunya.

Setelah acara doa bersama selanjutnya dilakukan sesi diskusi dengan moderator Bahar Siagian.

Dalam sesi diskusi di undang sebagai narasumber yaitu I Wayan Sudirta yang juga sebagai Pengacara Ahok dan Ade Armando, MSc., akademisi UI.

Dalam kesempatan itu Wayan menyampaikan adanya “keresahan massal”, akan isu terbentuknya Negara khilafah, dengan  mengganti dasar Negara Pancasila, sehingga berujung pada ketidakutuhan NKRI.

“Jangan ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman dan sebagian orang membuat suasana resah kalau adanya isu tersebut. Ini adalah permasalahan kita bersama. Karena sesungguhnya pencinta NKRI yang dalam kondisi batinnya merasa resah adalah mayoritas di negara ini, sedangkan yang pihak-pihak yang membuat suasana tidak nyaman adalah minoritas,” ujar Wayan.

Oleh karena itu jelasnya, sebagai pendukung Pancasila dan NKRI yang mayoritas tidak boleh diam dan membiarkan kaum minoritas yang membuat suasana tidak nyaman itu menjadi beranggapan bahwa merekalah yang mayoritas.

Wayan juga menambahkan dengan terlaksananya acara rutinan tanggal 9 setiap bulannya selama Ahok dalam masa tahanan, bertujuan untuk menjaga semangat agar pengorbanan Ahok sebagai sebuah keteladanan tidak luntur dan tidak pernah padam menjaga perjuangan.

Disamping itu dalam mengatasi kelompok-kelompok radikal, Wayan yang juga anggota Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) akan menyiapkan kajian berupa Perpu untuk pembubaran ormas intoleran akan mengusulkan kepada presiden agar ormas intoleran dapat segera dibubarkan sehingga keresahan yang selama ini di masyarakat bisa dihilangkan.

“Kita berduka karena supremasi hukum tidak ditegakkan, karena ada pihak tertentu yang tidak mau disentuh oleh aparat hukum sementara itu Ahok harus di adili dan di hukum hanya karena tekanan massa. Kita harus terus “berteriak” mendukung para aparat penegak hukum sebagai legitimasi sosial agar mereka berani bertindak tegas dan adil,” tegasnya.

Memperjuangkan kesempatan yang sama bagi seluruh WNI termasuk Ahok untuk berkarya di negara ini tanpa embel-embel mayoritas-minoritas, pribumi-non pribumi, menurut Wayan juga merupakan wujud nyata dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika .

Hal senada juga disampaikan dalam diskusi tersebut oleh DR. Ade Armando, MSc.

Ade menyebut bahwa peradaban dunia berkembang karena adanya ide, ide-ide kebaikan serta berani mengungkapkan ketidakjujuran itu justru ahok menjadi korbannya, disamping korban-korban lain seperti dr.Otto, dr.Fiera, dr.Nancy Weber, dll.

Mereka saat ini banyak upaya mem’bisu’kan kaum mayoritas pecinta kebhinnekaan “bergerak” tanpa kita sadari secara Terstruktur, Sistematis.

Disamping itu Ade menyebut dunia Islam di Indonesia dalam posisi “tertidur”. Dengan kedatangan Jokowi dan Ahok mengganggu pergerakan kelompok yang merasa dirinya paling benar. “Mereka membawa kebebasan berpikir dan berpendapat. Mereka membawa pencerahan bahwa kebenaran bukanlah otoritas penguasa, bahkan bukan juga otoritas ulama,” imbuhnya.

Sehingga ide pencerahan ini menakutkan bagi kelompok intoleran. Di akhir diskusi Ade menyampaikan kita tidak boleh gentar menghadapi kaum radikal dan harus terus mendukung pergerakan yang melawannya. “Jadilah seperti “anak kecil” yang masih polos dan jujur yang berani mengungkapkan segala sesuatu jujur apa adanya,” pungkasnya.