Pengaruh Hasil FOMC Meeting

61

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (21/6) diperkirakan melemah karena dipengaruhi penguatan dollar Amerika Serikat (AS) dipasar global pasca Federal Open Market Committee (FOMC) meeting yang menunjukan adanya pengurangan setimulus berupa program pembelian obligasi lebih awal. “Rupiah diperdagangkan di range 9.900-9.970 per dollar AS,” ujar Kepala Divisi Treasury BNI, Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta, Kamis (20/6).

Menurut dia, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari eksternal kata dia,  pelemahan rupiah masih berkaitan dengan pidato pimpinan the Federal Reserve Ben S Bernanke yang menyatakan bank sentral AS tengah bersiap mengurangi program stimulusnya pada akhir tahun ini dan mengakhirinya pada pertengahan 2014. “Penghentian ini dilakukan jika sektor tenaga kerja menunjukkan perbaikan,” kata dia.

Dia mengatakan, pengetatan moneter The Fed berarti menipisnya likuiditas dollar AS di pasar. “Mereka menarik dollar AS keluar dari emerging market. Jadi, dollar AS menguat sehingga kotras terhadap mata uang utama,” tandas dia.

Dari dalam negeri ujar dia, pasar keuangan Indonesia tidak diuntungkan, dengan belum jelasnya kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM). Setelah APBN-P disetujui dalam rapat Paripurna pada 17 Juni lalu, Presiden RI belum juga memutuskan kebijakan kenaikan harga BBM. “Penantian investor terhadap kepastian kebijakan kenaikan harga BBM belum jelas sampai kapan sehingga pasar Indonesia mengalami tekanan termasuk indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga turun,” kata dia.

Karena itu ujar dia, pasca kenaikan harga BBM, posisi rupiah tidak akan tertekan lagi. “Berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, setelah harga BBM naik, reaksi rupiah positif secara signifikan,” tutur dia

Tekanan rupiah potensi berlanjut karena investor masih terus melakukan aksi jual disamping karena demand dollar AS dari importer yang masih tetap tinggi. “Pull out investor dari saham dan obligasi  menambah tekanan terhadap rupiah,” imbuh dia.

 Namun demikian kata dia, intervensi Bank Indonesia (BI) menyelamatkan rupiah dari tekan. “Rupiah akan melemah lebih dalam apabila tidak dijaga superketat oleh BI,” pungkas dia.