Penjualan Industri Keramik Naik 20%

31
Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto didampingi Direktur Industri Bahan Galian Nonlogam Kemenperin Toeti Rahajoe (kanan) meninjau stand peserta Pameran Keramika 2016 di Jakarta, (17/3).

JAKARTA-Kementrian Perindustrian (Kemenperin) mencatat nilai penjualan keramik sejak Januari 2016 mengalami kenaikan sebesar 15-20 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut karena dimulainya proyek pembangunan infrastruktur dan properti yang banyak menggunakan produk keramik. “Untuk jenis tile atau ubin banyak dibutuhkan untuk pembangunan properti, seperti pada program sejuta rumah yang dicanangkan oleh Pemerintah,” kata Menteri Perindustrian dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Harjanto pada pembukaan Pameran Keramika 2016 di Jakarta, Kamis (17/3).

Di samping itu, jelasnya, industri keramik nasional dalam jangka panjang masih cukup prospektif seiring pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus membaik. “Kami juga terus berupaya meningkatkan konsumsi keramik perkapita yang masih sekitar 2 m2, sedangkan negara-negara ASEAN lainnya sudah diatas 3 m2,” tuturnya.

Dengan didukung jumlah penduduk mencapai 254,9 jutajiwa serta prospek pembangunan properti dan konstruksi yang terus berkembang, Harjanto meminta kepada pelaku industri keramik nasional agar memanfaatkan peluang pasar tersebut. “Selain dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri keramik kita juga harus mampu memperluas ke pasar ekspor dengan produk yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya.

Pada tahun 2015, produksi industri keramik nasional sebesar350 juta meter persegi, dimana sebanyak 87 persen diserap pasar lokal dan sisanya 13 persen di ekspor. keramik2

Harjanto menyampaikan, industri keramik di Indonesia telah berkembang dengan baik selama lebih dari 30 tahun dan merupakan salah satu sektor unggulan dengan dukungan ketersediaan bahan baku yang melimpah.

 

Bahkan, tambahnya, kualitas dan desain padaprodukindustri keramik nasional yang meliputi ubin (tile), saniter, perangkat rumah tangga (tableware), dan genteng sudah semakin baik sesuai kebutuhan pasar saat ini. Alhasil, sektor ini memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pembangunan nasional melalui penyediaan kebutuhan domestik, perolehan devisa dan penyerapan tenaga kerja. “Industri keramik nasional juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan produsen keramik negara lain, yaitu tersedianya deposit tambang sebagai bahan baku keramik yang cukup besar yang tersebar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar dan zircon maupun energi gas sebagai bahan bakar proses produksi,” paparnya.

Keunggulan-keunggulan tersebut menjadi keuntungan dalam upaya meningkatkan daya saing produk keramik nasional.

Terlebih lagi dalam menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kementerian Perindustrian terus mendorong berbagai langkah strategis dalam pengembangan industri keramik nasional ke depannya melalui kontinuitas pasokan gas dengan harga wajar; pengembangan teknologi, fabrikasi, serta pemasaran dan promosi produk nasional di pasar mancanegara; dan pengembangan SDM industri keramik, khususnya dalam hal desain dan rekayasa produk.

Harjanto mengatakan, pembahasan penurunan harga gas untuk industri sudah dilakukan Kemenperin dengan kementerian dan lembaga terkait. “Penghitungannya sudah selesai dilakukan, tinggal menunggu keputusan dari Kementerian ESDM,” ujarnya seraya menjelaskan akan ada dua produk gas yang sedang disusun yakni untuk feedstock dan utility. “Untuk yang feedstock pakai formula dengan berdasarkan harga komoditas. Jadi kalau komoditas naik, harganya juga naik dan akan dibedakan masing-masing produk komoditasnya. Sedangkan yang utility harganya sudah fix,” tuturnya.

Selanjutnya, dalam peningkatan daya saing industri keramik nasional, Kemenperin juga terus berupaya untuk memperluas pasar ekspor, menjalankan programPeningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), serta penerapan dan pengawasan SNI wajib.

Mengenai pengembangan kompetensi SDM, kata Harjanto, perlu disusun suatu standar kompetensi dalam pelatihan SDM industri keramik. Selain itu, untuk menguatkan research and development (R&D) industri keramik nasional, diperlukan penambahan dan modernisasi peralatan laboratorium uji dan lembaga penelitian, serta mengoptimalkan fungsi lembaga penelitian dalam mengembangkan produk dan proses produksi keramik. “Untuk itu, melalui penyelenggara pameran ini, Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) serta pihak-pihak yang berpartisipasi dapat terus memberikan kontribusi dalam pengembangan industri keramik nasional,” tegasnya.

Ketua Umum ASAKI Elisa Sinaga menegaskan akan mempromosikan produk keramik Indonesia, juga akan membawa industri keramik Indonesia bersaing di pasar global dengan produknya yang berkualitas dan inovatif. “Kami juga menampilkan industri pendukung berupa teknologi dan bahan baku. Untuk itu, pameran ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pertukaran informasi dan transaksi bisnis antara pengusaha dan pengguna produk keramik dalam dan luar negeri,” paparnya.