Perang Dagang Belum Mengubah Dinamika Investasi Global

19

Oleh: Masyita Crystallin

Data OECD menunjukkan bahwa investasi langsung luar negeri (FDI) global turun menjadi 1,5% dari PDB tahun lalu, terendah dalam beberapa dasawarsa. Siklus teknologi, yang melemah, penurunan ekspektasi pertumbuhan di G3 (Kolombia, Venezuela dan Meksiko), dan peningkatan nasionalisme ekonomi mungkin menyumbang pada penurunan ini.

Perselisihan perdagangan Cina-AS, yang sedang berlangsung, kemungkinan memperburuk kecenderungan tersebut. Tidak mengherankan, negara dengan rekam jejak FDI netto paling kuat adalah Cina, meskipun saat perusahaan Cina mulai berinvestasi di luar, angka nettonya menurun.

Sebaliknya, FDI netto ke UE hampir tidak ada, sementara FDI ke dalam hampir selalu dilampaui oleh arus investasi keluar. AS juga mencatat rekam jejak FDI netto biasa, meskipun ada beberapa peningkatan dalam kecenderungan sejak 2015. Gambarannya menjadi sangat menarik saat data difokuskan pada arus masuk bruto. Seri ini mengungkapkan sentimen investor asing terhadap ekonomi.

Ini sekali lagi menggarisbawahi aliran kuat ke Cina dalam lebih dari satu dasawarsa. Secara mengejutkan, meskipun ada pemotongan pajak dan insentif historis, FDI ke dalam AS melemah dalam dua tahun terakhir.

China: Permintaan dalam negeri diperkirakan menurun pada April, seperti ditunjukkan indikator awal. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) NBS turun menjadi 50,1 dari 50,5 pada Maret. Penjualan ritel dan pertumbuhan produksi industri seharusnya melambat menjadi 8,6% dan 6,5% secara tahunan pada April, dari 8,7% dan 8,5% pada Maret.

Sebaliknya, pertumbuhan investasi aset tetap diperkirakan naik tipis menjadi 6,4% dari 6,3% berkat kebijakan moneter akomodatif dan dukungan fiskal. Bank Sentral Cina (PboC) mengucurkan 267,4 miliar yuan ke bank komersial pada April melalui pinjaman jangka menengah (TMLF) khusus untuk menyalurkan dana ke sektor dengan permintaan pendanaan lebih besar (mis. perusahaan swasta, UKM). Ke depan, sentimen konsumsi dan kegiatan industri akan tetap suram karena ketidakpastian eksternal. Kebijakan stimulus lanjutan, terutama di bidang moneter, seperti pemotongan rasio pencadangan wajib, kemungkinan diberlakukan.