Perang Dagang Belum Reda, Darmin Ingatkan Ekspor Ke Cina Bisa Melambat

5
suaramerdeka.com

JAKARTA–Pemerintah mengingatkan kalangan dunia usaha bahwa sangat penting penguatan pondasi sektor ekspor nasional untuk mendukung kinerja pertumbuhan ekonomi pada 2019.

“Kita betul-betul mengkaji bagaimana mendorong ekspor, karena apa yang sudah diputuskan di perindustrian melalui 4.0, itu bukan sesuatu yang muluk-muluk dan sesuai kebutuhan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Jumat, (10/5/2019)

Darmin mengatakan pembenahan sektor ekspor, terutama nonmigas, melalui penguatan industri pengolahan, sangat penting untuk meningkatkan kegiatan ekonomi.

Pembenahan kapasitas dan produksi untuk ekspor itu, selama ini sudah berjalan baik, meski belum memberikan kontribusi positif kepada neraca perdagangan.

Oleh karena itu, penguatan kebijakan terus dilakukan terutama kepada industri prioritas yang telah berkontribusi kepada peningkatan ekspor seperti makanan dan minuman, elektronik, otomotif maupun kimia.

“Kita tinggal dorong agar ekspornya naik, termasuk dari pengolahan sumber daya alam, melalui produksi smelter maupun sawit. Jadi meski rasanya belum klik, tapi pondasinya sudah ada,” ujar Darmin.

Selain itu, upaya ini juga dilakukan untuk menekan dampak negatif dari perang dagang antara AS dengan China yang bisa mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.

“Kalau perang dagang ini berkelanjutan, ekspor nonmigas China melambat, impornya juga turun. Ekspor kita ke sana, pasti berdampak,” kata Menko Perekonomian.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2019 tumbuh 5,07 persen, melalui dukungan konsumsi rumah tangga dan pemerintah.

Ekspor barang dan jasa pada periode ini tercatat tumbuh negatif 2,08 persen, karena adanya penurunan ekspor migas maupun non migas.

Pemerintah mengharapkan pertumbuhan ekonomi pada 2019 dapat mencapai 5,3 persen sesuai dengan asumsi yang ditetapkan dalam APBN.