Perbankan Harus Jadi Bisnis Kepercayaan dan Teknologi Yang Kompetitif

18

JAKARTA-Memasuki era Revolusi Industri 4.0, perubahan di dunia perbankan merupakan sebuah keniscayaan, yang semula hanya bisnis kepercayaan, saat ini di tambah menjadi bisnis kepercayaan dan teknologi. Karena teknologi mampu memangkas waktu dan proses perbankan.

Demikian disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat menjadi keynote speaker pada Seminar Nasional Perbanas (SNAP) Tahun 2019, di Auditorium Perbanas, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/02/2019).

“Orang berpikir kalau mau kirim uang dulu hitungannya hari, jam dan sekarang detik, siapa pun semua bisa melakukannya, itulah teknologi,” ujarnya.

Menurut Wapres, revolusi industri ini sebenarnya telah berjalan secara bertahap. Namun laju perubahannya semakin cepat sehingga bisnis perbankan berubah total.

Untuk itu, Wapres menekankan pentingnya pengetahuan dan teknologi informasi, tanpa hal tersebut bank akan ditinggalkan dan kalah pada percaturan bisnis yang kompetetitif.

“Saat ini bisnis kecil bisa beroperasi mendunia hanya dari rumah, mampu mempunyai saingan-saingan yang dulu tidak terpikirkan, fintech memungkinkan orang membeli dan membayar secara langsung, semuanya merupakan perubahan-perubahan akibat teknologi informasi, tapi bisnis besar yang tidak menggunakan teknologi dapat kembali ke desa,” ungkapnya.

Karena itu, Wapres berharap melalui teknologi kondisi ideal perbankan di tanah air dapat tercapai.

“Pada krisis moneter ialah terlalu mudah memberikan ijin bank sehingga jumlah bank waktu itu di tahun 1998 sebanyak 230 bank, saat ini berjumlah sekitar 118, saya kira yang ideal sekitar 30 sampai 40 bank, merger secara alamiah akan terjadi karena bisnis itu kepercayaan dan teknologi,” jelas Wapres.

Lebih lanjut Wapres menjelaskan bahwa ke depannya semua akan mengalami perubahan, akan ada yang kehilangan baik bisnis maupun pekerjaan, tetapi juga akan timbul bisnis dan pekerjaan baru.

“Dulu waktu sulit telepon, yang ramai adalah usaha warung telekomunikasi (wartel), sudut-sudut jalan sampai lorong ada wartel dan paling ramai pada tengah malam karena harganya murah. Namun, begitu ada handphone wartel mati termasuk telpon umum, tapi yang muncul yang baru adalah penjual pulsa, dimana-mana ada kios penjual pulsa, lama-lama penjual berkurang karena sekarang sudah ada komunikasi melalui whatsapp,” contohnya.

Untuk mengantisipasi itu semua, Wapres menekankan pentingnya proses rethinking, evaluasi dan reorientasi dari semua keperluan bisnis yang terjadi saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres mengucapkan selamat kepada Perbanas yang telah 50 tahun mengembangkan SDM dan berharap agar Perbanas terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikannya dengan melibatkan teknologi terkini.

Sebelumnya Wakil Ketua Perbanas Maryono mengatakan Indonesia perlu menyiapkan langkah strategis dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Hal ini menjadi tantangan karena ketidakmampuan dalam menghadapi perubahan akan menjadikan kita tertinggal.

Karenanya, dalam menghadapi kompetisi saat ini diperlukan kreativitas dan inovasi, serta partisipasi dari dunia usaha dan masyarakat. Untuk itu, Perbanas membekali mahasiswa dengan kemampuan adaptif agar dapat berperan aktif di masa depan, serta siap bersaing secara global.

Seminar Nasional Perbanas (SNAP) 2019 dengan tema “Rethinking of Business Model in the Innovation Era : A Consequense of Industry 4.0” diselenggarakan oleh Perbanas Institute dalam rangka memperingati Dies Natalis Perbanas yang ke-50 tahun.