Perbankan Nasional Belum Berpihak ke UMKM

36

JAKARTA-Keberpihakan dukungan pembiayaan perbankan nasional  terhadap segmen Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) masih sangat minim. Padahal Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan kebijakan bahwa minimal 20 persen dari portfolio pembiayaan bank harus disalurkan kepada segmen UMKM.

Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam mengutarakan data informasi dari   BI menunjukkan baru satu perbankan pemerintah yang saat ini mampu memenuhi kebijakan tersebut. Itu pun baru mampu memberikan akselerasi pembiayaan UMKM sebesar 43 persen. Sedangkan bank pemerintah dan swasta lainnya ada yang baru mampu memenuhi kebijakan tersebut masih di bawah 20 persen bahkan ada yang baru 11 persen saja.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan masih belum adanya keberpihakan bank-bank pemerintah atau perbankan nasional kepada UMKM. “Harusnya hal ini menjadi tantangan bagi perbankan nasional kita. Mengingat perbankan asing saja sudah melirik hal ini. Terutama bagi bank pemerintah, harus lebih agresif untuk segera memenuhi kebijakan yang sudah ada. Dalam hal terkait 20 persen dari portpolio pembiayaan bank, itu harus disalurkan kepada segmen UMKM,” ujar Ecky di Jakarta, Rabu (20/2).

Selain ini, katanya, itu merupakan sebuah kewajiban perbankan. Karena, dilihat  dari opportunity ke depan, UMKM ini akan memberikan cukup kontribusi terkait sebagai penyokong ekonomi nasional. “Segmen UMKM masih akan terus menjadi target pasar pada perbankan nasional, sehingga persaingan dalam meningkatkan pangsa pasar pada segmen ini juga semakin meningkat,” tukas Ecky.

Ecky juga mengatakan fungsi perbankan nasional harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan. Namun hal ini masih menjadi salah satu kelemahan dari perbankan nasional saat ini. Di mana, Financial Inclusion atau kemampuan perbankan untuk meningkatkan pelayanan ke seluruh konsumen seluruh level di masyarakat harus ditingkatkan. Harus ada perhatian serius dari publik agar fungsi intermediasi dari perbankan yang terkait dengan rendahnya financial inclusion itu bisa terwujud.

Kondisi UMKM saat ini yang mampu mengakses pembiayaan hanya sekitar 30 persen. Jumlah kepemilikan rekening masih di bawah 50 persen dari total penduduk Indonesia.

Bahkan hanya sekitar 0,2 persen investor domestik yang masuk ke pasar modal. Berbeda dengan Singapura yang 30 persen investor domestiknya masuk ke pasar modal dan Malaysia 12,8 persen investor domestiknya masuk ke pasar modal.

Sementara dari sisi tabungan lanjut dia, hanya 19,6 persen masyarakat Indonesia berusia di atas 15 tahun yang mempunyai rekening. Sementara di Singapura 98,2 persen, Thailand 72,7 persen dan Malaysia 66,2 persen. “Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya lebih baik dari Kamboja,” jelas dia.