Perbankan Perlu Perbesar Akses Produk Unggulan UKM Desa

57

JAKARTA-Perbankan dan kalangan pengusaha diminta lebih jeli melihat peluang paska panen terkait produk unggulan desa. Masyarakat desa bisa berperan sebagai pelaku proses produksi, sedangkan swasta atau UKM bertindak sebagai off taker, rantai pemasaran, dan rantai input produksi. “Ini yang melaksanakan masyarakat semua. Jadi kalau masa lalu perusahaan punya tanah kemudian masyarakat sebagai pekerja saja, sekarang masyarakat yang melakukan proses produksinya,” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo saat memberi sambutan dalam gelar temu bisnis dalam rangka pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) di Kantor Kemendes PDTT, Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Lebih jauh alumnus Politeknik Universitas Indonesia menjelaskan program Prukades adalah model yang dapat menguntungkan pihak petani maupun swasta. Perusahaan yang membantu secara manajemen dan pascapanennnya. “Buat masyarakat juga bisa senang, karena mereka tidak hanya pekerja, tapi mereka juga punya aset produksi yang pasarnya sudah ada,” ujarnya.

Menurut Eko, keterlibatan para pemangku kepentingan atau stakeholder dapat mempercepat serta menjamin efektifitas Prukades. Hingga saat ini, program Prukades telah diterapkan oleh 43 kabupaten dengan produk unggulan berbeda. “Dalam forum ini, mereka (bupati) saling menunjukkan produk unggulan masing-masing di setiap daerah. Kemudian bank dan dunia usaha mendengar. Dalam hal ini bank dan dunia usaha akan melihat opportunity (peluang),” tambahnya.

Forum tersebut melibatkan 20 bupati/perwakilan, perusahaan swasta, perbankan, dan beberapa kementerian/lembaga terkait. Prukades adalah upaya untuk membentuk klaster ekonomi yang saat ini dikeroyok oleh 19 kementerian/lembaga. Klaster ekonomi dibutuhkan untuk memenuhi skala produksi agar sarana pascapanen bisa masuk ke desa. “Desa kita ini miskin karena tidak punya pasar,” ungkap lelaki yang pernah mengenyam pendidikan di University of Kentucky, Lexington, AS.

Dijelaskan Eko, yang dimaksud dengan pasar adalah sarana pasca panen kalau sektor pertanian. Sarana pasca panen tidak bisa masuk ke desa karena skala produksinya tidak cukup sehingga menjadi tidak ekonomis.

Sementara itu pakar ekonomi Aviliani mengatakan program Prukades tidak hanya bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin, melainkan juga untuk meningkatkan daya saing dengan menyatukan beberapa desa melalui satu produk unggulan.

Menurut Aviliani, forum bisnis Prukades tersebut bisa dimanfaatkan untuk mennyinkronkan antara kebutuhan perusahaan dan potensi yang dimiliki oleh desa di masing-masing daerah. “Prukades itu ada yang sudah tercipta dari dulu, ini natural. Tapi ada juga daerah yang mereka punya lahan tapi belum tahu mau dibikin apa. Nah melalui forum bisnis tersebut, perusahaan-perusahaan yang hadir bisa dilihat mereka butuhnya apa, sehingg ada business matching (pencocokan). Sehingga nanti lahan itu bisa dikelola sesuai kebutuhan perusahaan, kemudian annti perusahaan itu yang beli, begitu,” terangnya.

Selain itu, lanjut Aviliani, selama ini Prukades yang sudah ada yang terbentuk dengan sendirinya, cenderung memiliki skala ekonomi dan kualitas yang rendah. Sehingga dalam forum tersebut, perusahaan yang berkepentingan dapat memberikan pelatihan, bibit ataupun pupuk agar kualitas dan skala produk menjadi meningkat. “Kita tahu bahwa sektor pertanian kita yang produktif baru kelapa sawit, yang lain belum memenuhi skala ekonomi. Nah, harapannya dengan temu bisnis ini bisa progresif pengembangan dari skala ekonominya kemudian juga pendapatan petaninya,” ujarnya. ***eko