Pertamina Resmikan 7 Proyek Hilir Migas Senilai US$340 juta

43

JAKARTA- PT Pertamina (Persero) meresmikan tujuh proyek infrastruktur hilir migas dengan nilai total US$340 juta yang akan dapat menyokong perseroan dalam upaya menjadi pemain utama bisnis niaga migas di tingkat regional menuju aspirasi Asian Energy Champion 2025. 

 Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, Pertamina telah memiliki sejumlah strategi yang dicatatkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Strategi ini ditujukan untuk meningkatkan kinerja agar dapat berada sejajar dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Salah satu pemicu pertumbuhan perusahaan yang diutamakan adalah penguatan bisnis hilir migas melalui pengembangan infrastruktur suplai dan distribusi. “Presmian proyek-proyek ini diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja dan tugas-tugas Pertamina sebagai Indonesia’s National Energy Backbone atau perusahaan yang mampu menjadi tulang punggung penyediaan kebutuhan energi dalam negeri sekaligus untuk memantapkan posisi perusahaan dalam penguasaan bisnis niaga migas baik di level nasional, regional, maupun Internasional,” tutur Karen di Jakarta, Rabu (12/2). 

Adapun proyek-proyek yang diresmikan meliputi; pertama, peningkatan kapasitas TBBM Pulau Sambu hingga mencapai 300.000 KL dengan dermaga berkapasitas LR 100.000 DWT yang dilengkapi dengan fasilitas Terminal Automation System, serta blending untuk produk Solar dan MFO berstandar Internasional, kedua, pengembangan TBBM Tanjung Uban dengan tambahan kapasitas tangki timbun sebesar 200.000 KL lengkap dengan Terminal Automation System dan dermaga baru berkapasitas LR 100.000 DWT, serta fasilitas blending Mogas yang dapat meningkatkan fleksibilitas pembelian impor produk Premium atau HOMC 92 dan Naphta. Kedua proyek ini akan tuntas pada akhir 2016. Ketiga, terminal LPG Panjang, Lampung dengan kapasitas tangki timbun 5.000 metrik ton yang telah  melayani pasokan LPG untukLampung dan sekitarnya sekaligus sebagai buffer stock untuk wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu. 

Keempat, kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) berkapasitas 84.000 cubic metric (setara dengan 50.000 Ton LPG) dengan panjang kapal 225,8 meter yang merupakan terbesar di dunia. Kapal VLGC ini merupakan bagian dari rencana penambahan armada milik Pertamina untuk memperkuat jumlah armada kapal milik Pertamina, khususnya tipe LPG carrier untuk meningkatkan efisiensi dan memperlancar distribusi LPG ke seluruh wilayah Indonesia serta meningkatkan posisi tawar Pertamina di antara para ship owners. 

Selanjutnya adalah tiga proyek Depo Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di tiga lokasi bandara Internasional, yaitu DPPU Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, DPPU Hassanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, dan DPPU Bandara Internasional Lombok, Mataram, NTB. Ketiga proyek pembangunan DPPU tersebut  bertujuan untuk meningkatkan pelayanan bisnis penjualan Avtur Pertamina dalam dunia penerbangan nasional maupun internasional. “Peresmian proyek-proyek dengan nilai total US$340 juta ini sangat penting, karena keberhasilan pembangunan dan revitalisasi ini adalah bagian dari kemajuan Pertamina dan Indonesia. Proyek-proyek ini merupakan proyek strategis yang sangat mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi secara nasional dan menjadi momentum untuk mendukung percepatan proses transformasi ekonomi khususnya di wilayah bersangkutan serta meningkatnya efisiensi ekonomi dan sistem logistik antarwilayah, antarpulau, dan antarnegara,” tambah Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya. 

Hanung mencontohkan pengembangan TBBM Sambu, yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1918, akan menjadikan Pertamina memasuki babak baru sebagai Storage and Blending Facility Provider. TBBM Pulau Sambu ini nantinya juga akan dimanfaatkan oleh PT Pertamina Energy Services (PES) sebagai sinergi Pertamina dengan Anak Perusahaan untuk mendukung bisnisnya menjadi oil trader di wilayah regional Asia Tenggara.  Hanung juga menyinggung mengenai perkuatan infrastruktur DPPU di tiga bandara Internasional sebagai upaya Pertamina untuk mempertahankan pasar dan mengamankan penguasaan pasar penjualan Avtur di Indonesia sebagai antisipasi dibukanya pasar (open acces) bahan bakar penerbangan domestik.