Pertumbuhan Kredit dan Sektor Riil

55

Oleh : Prof.Firmanzah.,PhD, Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Perekonomian nasional di tengah penyelenggaraan Pemilu terus menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Suksesnya penyelenggaraan pemilihan legislatif pada 9 April 2014 tidak hanya menguatkan keyakinan pasar tetapi juga memberi ruang untuk mendorong kinerja ekonomi. Di sisi lain stabilitas ekonomi juga merupakan manivestasi dari seberapa kokoh fundamental ekonomi tersebut.

Sepanjang Januari-Maret 2014, fundamental perekonomian nasional menunjukkan tren yang positif. Cadangan devisa di akhir Maret 2014 mencapai 102,6 miliar dollar AS atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Neraca perdagangan juga mencatatkan surplus pada periode Februari 2014 sebesar 785 juta dollar AS. Surplus neraca perdagangan ini juga memberi kontribusi dalam menekan defisit transaksi berjalan. Tren penguatan fundamental ekonomi juga ditunjukkan oleh apresiasi nilai tukar rupiah sepanjang Januari – Maret 2014. Nilai tukar rupiah menguat mencapai 7,13 persen sepanjang awal 2014 di banding akhir 2013. Apresiasi nilai tukar rupiah ini juga diikuti dengan terjaganya inflasi. Inflasi periode Maret 2014 sebesar 0,08 persen (mtm) atau 7,32 persen (yoy), turun dari inflasi Februari 2014 sebesar 0,26 persen (mtm) atau 7,75 persen (yoy). Inflasi periode Maret 2014 ini juga lebih rendah dari rata-rata inflasi dalam 6 tahun terakhir.

Bank Indonesia beberapa waktu lalu memperkirakan pertumbuhan kredit kuartal 1-2014 di kisaran 20 persen. Secara bulanan, pertumbuhan kredit Januari (20,9 persen), Februari (19,9 persen) dan Maret (20-21 persen) menunjukkan aktivitas pasar kredit cukup moderat. Pertumbuhan kredit di kuartal 1-2014 ini ditopang oleh permintaan domestik khususnya kredit investasi dan modal kerja. Secara umum, baik Pemerintah dan BI terus mengawasi dan menjaga pertumbuhan kredit di level yang aman khususnya sektor-sektor yang rentan seperti kendaraan bermotor dan properti. Tahun 2013, kebijakan nasional mengarah pada pengendalian pertumbuhan pasar kredit dengan mempertahankan tingkat pertumbuhan di level 20 persen. Pengendalian pertumbuhan kredit ini dimaksudkan untuk tetap menjaga stabilitas perbankan dan industri keuangan secara luas. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan pasar kredit di akhir 2014 dapat berada di rentang 15-17 persen. Dengan terjaganya risiko kredit dan ketersediaan likuiditas akan mendorong ketahanan industri perbankan nasional. Ketahanan industri perbankan menjadi salah satu pilar stabilitas sistem keuangan nasional.

Secara tahunan, pertumbuhan kredit per Maret 2014 memang relatif lebih rendah dibanding Maret 2013 yang mencapai 22,12 persen dan jauh lebih rendah dari Maret 2012 sebesar 25,7 persen. Kesinambungan kebijakan pengendalian pertumbuhan kredit dalam beberapa tahun terakhir juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas sistem keuangan. Pertumbuhan kredit yang terlalu tinggi juga akan berimbas pada meningkatnya risiko NPL serta potensi terkurasnya likuiditas industri perbankan. Dengan demikian pertumbuhan 20-21 persen dapat dikatakan pertumbuhan moderat dengan tren yang menurun sebagai upaya menjaga kestabilan sistem keuangan.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit 20-21 persen merupakan potret bergeraknya ekonomi khususnya sektor riil bahkan di tengah banyak negara berkembang lainnya yang mengalami kesulitan tumbuh. Pertumbuhan kredit khususnya untuk kredit investasi dan modal kerja menjadi indikator meluasnya aktivitas ekonomi masayrakat khususnya di sektor riil. Penyaluran kredit (produktif) perbankan ke sektor riil terus diupayakan tidak hanya bagi industri besar tetapi juga bagi UMKM atau industri-industri berbasis rumah tangga. Sebagai catatan, Bank Indonesia menetapkan minimum 20 persen kredit perbankan wajib disalurkan kepada UMKM. Upaya ini tentunya sangat membantu menggerakkan sektor riil khususnya ekonomi berskala kecil dan mikro. Potret pertumbuhan kredit di level moderat juga akan lebih antisipatif jika terjadi shock baik yang bersifat eksternal maupun internal. Artinya risiko yang dihadapi juga relatif konservatif terlebih di tengah volatilitas pasar keuangan global. Namun terlepas dari semua itu, pertumbuhan kredit 20 persen menjadi salah satu indikasi antusiasnya pasar domestik secara umum.

Indikasi antusiasme dan semakin besarnya kepercayan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional terlihar dari nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulab Maret 2014 meningkat mencapai 118,2 dibanding 116,2 di bulan sebelumnya. Begitu pula dengan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang meningkat berturut turut 123, 9 dan 112, 5 pada periode yang sama. Meningkatnya ketiga indeks yang dikeluarkan Bank Indonesia menjadi konfirmasi optimisme pasar (konsumen/investor) terhadap situasi dan perkembangan ekonomi nasional. Tentunya ini tidak lepas dari semakin kokohnya indikator-indikator makro dalam beberapa waktu terakhir ini. Keseimbangan dalam pengelolaan ekonomi nasional dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin yang tinggi sangat dibutuhkan terutama menghadapi dinamika eksternal dengan ketidakpastian yang tinggi. Pulihnya permintaan global serta kebijakan pengendalian permintaan domestik diharapkan dapat menjga keseimbangan perekonomian nasional. Dengan keseimbangan ekonomi melalui kebijakan pengendalian kita harapkan dapat menopang target pertumbuhan nasional yang lebih berkualitas dan mencerminkan realitas ekonomi nasional.

Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan 1-2014 berada pada level 5,77 persen dengan didukung sejumlah indikator makro dengan tren yang positif. Sementara itu target pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diharapkan dapat mencapai 6 persen. Dengan mempertahankan ritme kerja, konsisten, dan komitmen yang besar, saya berpendapat ekonomi nasional terus menguat di masa-masa mendatang. Kondisi dan kinerja ekonomi saat ini merupakan modal besar bagi perluasan pembangunan ekonomi nasional. Kita sangat berharap Presiden terpilih nantinya akan terus mendorong kemajuan ekonomi nasional dan membawa Indonesia semakin maju, mandiri dan sejahtera.

Catatan Redaksi: Tulisan ini dikutip dari laman setkab.go.id