Pertumbuhan Terjaga, Indonesia Masuk 6 Besar Ekonomi Dunia di 2023

34
Tenaga Ahli Utama di Kedeputian III Bidang Ekonomi, Kantor Staf Presiden Tri Yanuarti

JAKARTA-Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, ekonomi Indonesia akan menduduki peringkat ke-6 besar dunia dari sisi purchasing power parity (PPP) pada 2023. Indonesia juga menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam 10 besar PDB dunia.

Melihat posisi Indonesia saat ini yang sudah berada di urutan ke-7, Tenaga Ahli Utama di Kedeputian III Bidang Ekonomi, Kantor Staf Presiden Tri Yanuarti optimistis, proyeksi International Monetary Fund tersebut akan menjadi realita.

“Kami yakin, pertumbuhan 5,4 persen di 2023 untuk mencapai PDB tersebut bisa tercapai,” kata Tri dalam perbincangan Hot Economy di BeritaSatu TV, Selasa, 26 Februari 2019.

Konsumsi masyarakat yang semakin membaik menjadi salah satu modal pertumbuhan tersebut. Sebab, konsumsi masih menyumbang lebih dari 50 persen pertumbuhan PDB Indonesia. Selain itu, meningkatnya kemudahan berusaha dan berinvestasi juga menjadi faktor penunjang. Apalagi, banyak proyek infrastruktur yang sudah selesai.

Berdasarkan proyeksi IMF tersebut, PDB (PPP) Indonesia akan meningkat dari US$3,5 triliun pada 2018 menjadi US$ 4,97 triliun. Itu berarti, Indonesia mencuil 2,8 persen dari total ekonomi global.
Setelah dihantam krisis moneter 1997/1998, IMF mencatat, peringkat PDB (PPP) Indonesia sejak tahun 2000 terus membaik. Tercatat, pada tahun 2000, Indonesia berada di peringkat 13. Lima tahun kemudian, posisinya membaik ke posisi 12 dan naik satu peringkat ke posisi 11 pada 2010. Pada tahun 2015, Indonesia sudah berada di peringkat kedelapan dan tahun lalu naik di peringkat ketujuh.

Untuk naik kelas ke posisi 6, menurut Tri, ada persyaratan yang mesti dipenuhi, yakni kondisi global harus kondusif dibarengi dengan proses reformasi struktural di dalam negeri yang terus berlanjut.

Dari sisi kondisi global, ada beberapa hal yang menjadi sorotan Tri. Pertama, proses normalisasi moneter, baik di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang, berlangsung baik. “Artinya, tidak menimbulkan disrupsi di pasar finansial global, sehingga tidak menimbulkan gangguan, baik di perekonomian global maupun di Indonesia,” jelas alumni Sydney University ini.

Kedua, terkait perang dagang AS-China, Tri menyebut, China harus bisa menyerap dampak dari perang dagang itu sehingga ekonominya bisa tumbuh dengan baik. Peran China bagi perekonomian Indonesia cukup strategis mengingat saat ini, China adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Syarat ketiga, harga komoditas, termasuk minyak mentah, cukup kondusif sehingga berdampak positif bagi Indonesia.

Dari faktor domestik, Tri menambahkan, pemerintah harus tetap melanjutkan proses reformasi struktural untuk mendorong arus modal, peningkatan produktivitas, serta perbaikan kualitas sumber daya manusia.