Peternakan Kerbau Harus Mulai Dikembangkan

72
republika.co.id

JAKARTA-Daging kerbau asal India mulai masuk ke Indonesia. Perum Bulog sudah mengimpor 500 ton daging kerbau. Namun begitu ke depan pemerintah harus mengembangkan peternak kerbau lokal. ” Kalau daging kerbau dijadikan alat untuk menekan pasar tentunya peternakan kerbau dalam negeri juga bisa dikembangkan. Karena kan harga jualnya bisa jauh lebih murah dari pada daging sapi,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, DR E Herman Khaeron saat dihubungi, Rabu, (7/9/2016).

Menurut Herman, impor daging kerbau dimaksudkan untuk menurunkan harga daging sapi yang hingga kini masih di atas Rp100.00/kg. “Pemerintah ingin menekan dan sekaligus mengintervensi pasar,” tegasnya

Namun begitu, kata Herman, pemerintah tetap harus memperhatikan kesehatan masyarakat soal komoditas daging kerbau tersebut. Alasannya konsumen berhak mendapat prioritas dari pemerintah sebagai regulator. “Daging kerbau ini kan dikirim dari zona yang bebas penyaki kuku mulut. Tetapi daging kerbau itu diimpor dari dari negara yang belum bebas dari penyakit kuku mulut,” ungkapnya

Herman mendesak agar pemerintah tidak sembarang memberikan izin impor kepada pelaku-pelaku usaha. “Ini betul-betul harus terproteksi dan kalau ini untuk menstabilkan harga daging di pasaran, pemerintah harus membatasi agar impor ini hanya bisa dilakukan oleh Bulog saja,” sambung Herman.

Tidak hanya itu, Herman juga mendesak agar pemerintah segera memikikan pengembangan budidaya kerbau dalam negeri. Sebab, republik ini sangat mampu jika budidaya kerbau dibesarkan. “Pemerintah juga harus memikirkan nasib para peternak dalam negeri. Kalau daging kerbau dijadikan alat untuk menekan pasar tentunya peternakan kerbau dalam negeri juga bisa dikembangkan. Karena kan harga jualnya bisa jauh lebih murah dari pada daging sapi,” pungkasnya. ***