PII Indonesia Triwulan II- 2016 Naik USD12,8 Miliar

PII Indonesia Triwulan II- 2016 Naik USD12,8 Miliar

13
0
BERBAGI
Bank Indonesia/dok istimewa

JAKARTA-Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat net kewajiban sebesar USD405,1 miliar atau sebesar 46,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan II 2016, meningkat USD12,8 miliar (3,3% qtq) dibandingkan dengan posisi net kewajiban pada akhir triwulan I 2016 yang sebesar USD392,3 miliar (45,3% PDB).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Tirta Segara mengatakan peningkatan net kewajiban PII Indonesia tersebut dipengaruhi oleh kenaikan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Perkembangan tersebut sejalan dengan transaksi modal dan finansial pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mengalami surplus pada triwulan II 2016 seiring dengan persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik dan meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global.
Posisi AFLN Indonesia pada akhir triwulan II 2016 naik USD5,0 miliar (2,3% qtq) menjadi USD219,3 miliar. “Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan posisi investasi lainnya dan didukung pula oleh meningkatnya posisi cadangan devisa,” ujarnya di Jakarta, Jumat (30/9).

Dia mengaku, kenaikan posisi AFLN sedikit tertahan oleh penurunan posisi investasi portofolio serta revaluasi nilai aset sejalan dengan penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya.

Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan II 2016 meningkat sebesar USD17,8 miliar (2,9% qtq) menjadi USD624,5 miliar. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio, termasuk dari hasil penerbitan global bonds pemerintah pada Juni 2016. “Hal ini terjadi seiring dengan persepsi positif atas prospek perekonomian domestik dan meredanya risiko eksternal,” imbuhnya.

Selain itu jelasnya, peningkatan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh revaluasi nilai instrumen investasi berdenominasi rupiah sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah.

BI lanjutnya menilai memandangperkembangan PII Indonesia sampai dengan triwulan II 2016 masih cukup sehat. Namun demikian, BI terus mewaspadai risiko net kewajiban PII terhadap perekonomian. “Ke depan, BI berkeyakinan kinerja PII Indonesia akan semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh BI,” pungkasnya.