Pisang Lebak Pasok Kebutuhan Jabodetabek

53
republika.co.id

LEBAK-Komoditas pisang menjadi andalan petani Kabupaten Lebak, Banten, untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah itu. “Kami terus mendorong petani meningkatkan kualitas sehingga komoditas pisang Lebak menembus pasar dunia,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Rabu.

Selama ini, produksi pisang di Kabupaten Lebak surplus sehingga menyumbang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Perguliran uang hasil penjualan pisang mencapai miliaran rupiah per hari dengan produksi ratusan ton per hari.

Saat ini, harga pisang di tingkat penampung berkisar Rp70 ribu-Rp250 ribu per tandan. Produksi pisang di Kabupaten Lebak selain bisa memenuhi pasar lokal, juga dipasok ke daerah lain, seperti Tangerang, Jakarta, dan Bogor.

Bahkan, setiap hari berbagai angkutan dari 28 kecamatan mengangkut pisang hasil produksi petani. Saat ini, produksi pisang dapat digunakan sebagai bahan campuran kuliner, aneka kerajinan, dan dikonsumsi masyarakat. “Kami melihat komoditas pisang itu menjadikan andalan tetap pendapatan petani dibandingkan pertanian lainnya,” katanya.

Menurut dia, selama ini pisang Kabupaten Lebak memiliki kualitas yang baik karena petani mengembangkan budi daya tanaman tersebut di lahan darat atau ladang dengan didukung kesuburan tanah cukup baik. Produksi pisang yang dikembangkan itu, jenis pisang mulih, nangka, galek, rajah buluh, raja sereh, emas, kepok, dan ketan.

Pemerintah daerah terus mengembangkan tanaman pisang melalui berbagai program bantuan guna meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. “Kami tahun ini mengalokasikan program bantuan tanaman pisang untuk menggenjot produksi,” katanya.

Sejumlah petani Badui mengatakan bahwa mereka terbantu pendapatan ekonomi keluarganya dari hasil penjualan pisang. Saat ini, petani Badui terus mengembangkan berbagai jenis pisang karena permintaan pasar cenderung meningkat. “Kami setiap pekan menjual pisang bisa menghasilkan pendapatan Rp1,5 juta,” kata Santa (45), seorang petani Badui di Lebak.