Politeknik St. Paulus Surakarta, Teken MoU Dengan Tiongkok

Politeknik St. Paulus Surakarta, Teken MoU Dengan Tiongkok

38
0
BERBAGI
David Maharya Ardiantara Direktur Pengembangan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus, Surakarta dan Zhang Dongye dari International Division Universitas Chengdu, Tiongkok berfoto bersama menyusul penandatanganan MOU, di STMIK Bina Insani Bekasi, Minggu (17/4)

BEKASI-Politeknik St. Paulus, Surakarta melakukan kerjasama dengan Universitas Chengdu, Provinsi Sechuan, Tiongkok dalam bentuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), di Bekasi, di Kampus STMIK Bina Insani Bekasi, Minggu (17/4).  Kerjasama yang dijembatani SEAMOLEC (South East Asia Ministers of Education for Open Learning Center) tersebut meliputi Program Gelar Ganda (Double Degree Program), Pemagangan dan Penempatan Kerja bagi para lulusan Politeknik St. Paulus Surakarta.

Demikian dijelaskan oleh Direktur Pengembangan dan Kerjasama Politkenik St. Paulus David Maharya Ardyantara, menyusul penandatanganan MOU. Dalam penandatanganan tersebut,  Universitas Chengdu diwakili oleh Zhang Dongye selaku International Division dan Zhang Ziaoqian selaku Direktur Chengdu Textile College. Politeknik St. Paulus merupakan salah satu dari 70 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia yang melakukan kerjasama dengan universitas tersebut.

Ke-70 perguruan tinggi sepakat untuk membentuk konsorsium dan juga China Corner. Terkait dengan konsorsium, Politeknik St. Paulus Surakarta ditunjuk sebagai koordinator untuk wilayah Solo Raya yang  dikoordinasi oleh Kandi Firman Said, IT Head Politeknik St. Paulus, Surakarta. Konsorsium meliputi business center, Care Giver (Pengasuh Lansia) dan industri kreatif.  Sementara China Corner dibentuk sebagai jembatan maya dalam transfer ilmu serta teknologi dari perguruan tinggi Tiongkok dan Indonesia.  “Kerjasama ini dilatarbelakangi dengan munculnya Tiongkok sebagai negara terkuat kuat di Asia di samping Jepang dan Korea Selatan khususnya dalam bidang teknologi, investasi serta tenaga ahli. Tiongkok dengan jumlah penduduk 1,6 milyar dengan rata-rata jumlah 20.000 mahasiswa untuk tiap perguruan tinggi. Dan, setiap tahunnya Tiongkok mengirim 40.000 mahasiswa ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu. Hal tersebut dijadikan acuan bagi peningkatan mutu dan kualitas tata kelola akademik oleh Politeknik Santo Paulus Surakarta,” ujar David.

David menjelaskan lebih lanjut, kerjasama dengan Tiongkok ini diperlukan dan relevan bagi perguruan tinggi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta dalam menghadapi persaingan dengan Perguruan Tinggi Asing yang mulai masuk Indonesia pada 2017.