Politisi Senayan Tolak IPO Semen Baturaja

162

JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR, Mustofa Assegaf menolak rencana pemerintah terkait penawaran saham perdana (IPO) PT Semen Baturaja (Persero). Pasalnya, saat ini semen nasional masuk ke dalam kategori industri strategis yang menguntungkan. “Semen Indonesia sudah demikian hebatnya, kenapa Semen Baturaja harus mencari dana dari luar. Saya tidak setuju. Tidak ada alasan yang bisa diterima akal sehat untuk melepas saham ke publik sebesar 35 persen,” kata Assegaf dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR tentang Pengambilan Keputusan Privatisasi Semen Baturaja yang dihadiri Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dan Direktur Utama Semen Baturaja Pamudji Rahardjo di Gedung DPR Jakarta, Senin (4/2).

Menurut Assegaf, survei yang dilakukan salah satu majalah properti Eropa menunjukkan bahwa pertumbuhan properti tertinggi dunia akan terjadi di Indonesia. “Pertumbuhan properti terbaik nantinya bukan di Singapuran, China atau Hong Kong. Tetapi diperkirakan akan terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut dia, permintaan semen di Indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan dan ditambah lagi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur. “Kita jangan mengulangi sejarah atas penguasaan asing terhadap industri perbankan nasional. Jangan lagi kita membuka keran masuknya investor asing ke dalam perusahaan nasional,” ucapnya.

Lebih lanjut Assegaf menilai, industri semen nasional juga diperkirakan akan menjadi pendorong utama bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. “Tetapi, kalau pun kawan-kawan di DPR akan menyetujui IPO, maka harus melewati rapat panitia kerja terkait IPO Semen Baturaja,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menilai, terealisasinya IPO Semen Baturaja akan mampu meningkatkan sumber pendanaan pemerintah dan menambah kekayaan negara. Dengan demikian, lanjut Agus, sejauh ini pemerintah tengah mendorong sejumlah perusahaan BUMN untuk menjadi perusahaan publik.

“Dari sisi fiskal, kami akan senang sekali kalau ada perusahaan BUMN yang bisa bekerja dengan baik serta bisa membayar pajak ke Pemerintah Pusat dan Daerah maupun retribusi. Itulah tujuan awal dan utama kami pada rencana IPO Semen Baturaja,” katanya.

Selain mendapatkan pemasukan melalui pajak yang lebih besar, kata Agus, perusahaan BUMN yang telah melakukan IPO akan membayar dividen. “Dividen yang diterima pemerintah itu tentunya akan menjadi sumber-sumber pendanaan bagi pemerintah,” ucapnya.

Dengan demikian, lanjut Agus, Semen Baturaja yang saat ini dinilai sudah siap untuk melakukan IPO sudah diarahkan oleh pemerintah untuk menjadi perusahaan publik. “Perusahaan ini nantinya tidak hanya memberikan income berupa pajak dan dividen kepada negara, tetapi perusahaan ini akan menjadi lebih sehat karena masyarakat mengkritisi,” paparnya.

Saham perusahaan yang mencerminkan harga pasar, jelas Agus, secara otomatis akan meningkatkan kekayaan negara. “Sekarang industri semen sedang bagus, harganya akan bagus pula. Jadi, negera tidak hanya mendapatkan pendapatan secara tunai, tetapi juga menambah kekayaan,” terang Agus.

Agus mengatakan, pada 2005 total kekayaan negara hanya sebesar Rp1.000 triliun dan saat ini angkanya berubah menjadi Rp3.000 triliun. “Kalau perusaahaan semen ini menjadi perusahaan publik, otomatis sahamnya akan meningkat dan kekayaan negara juga akan meningkat,” katanya.