Pospera dan Adian Napitupulu Diduga Aktor Rekayasa Anti Ahok

79

JAKARTA-Organisasi Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) dan politikus PDI Perjuangan, Adian Nappitupulu disinyalir menjadi aktor intelektual dibalik gerakan pembusukan relawan Teman Ahok. Adapun modus yang dilakukan adalah memfasilitas gerakkan orang-orang yang mengaku mantan Teman Ahok. Dugaan ini semakin kuat merujuk pada peran Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pospera Alex Sondang Hutagalung yang menghubungi sejumlah relawan Teman Ahok yang juga anggota Pospera.
“Pospera dan Adian Nappitupulu lah yang menggerakkan acara orang-orang  yang ngaku mantan Teman Ahok alias Teman Ahok palsu,” demikian keterangan  yang dikutip  Redaksi www.beritamoneter.com dari akun facebook  Ahmad Nurcholish ‘BENARKAH INI YG TERJADI? ” di Jakarta, Rabu (22/6).

Dalam akun facebook itu dituliskan bahwa gerakan pembusukan ke Teman Ahok juga  sangat kental kaitannya dengan ancaman yang pernah dilontarkan oleh Adian Napitupulu (Ketua Pospera) bahwa akan ada gesekan antara relawan Teman Ahok dengan relawan Jokowi.

Pospera juga sangat kental kaitannya dengan PDI Perjuangan, dimana Adian merupakan anggota DPR dari PDI Perjuangan. Bahkan peran PDI Perjuangan semakin kental terasa karena pada acara Indonesia Lawyer Club ( ILC) edisi  21 Juni 2016. Dalam acara itu, anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan, Junimart Girsang mengatakan bahwa 14 jam lagi Teman Ahok akan mendapatkan serangan lagi yang kemudian pas waktunya dengan acara konfrensi pers dari bekas -Teman Ahok di Cikini.

Untuk mengetahui kronologis secara lengkap, berikut kami kutip seluruh isinya.

Dari kemarin malam (21 Juni) hingga pagi (22 Juni 2016) Ketua DPW Pospera Alex Sondang Hutagalung menghubungi sejumlah relawan Teman Ahok yang juga anggota Pospera.

Alex memaksa sejumlah orang yang dihubunginya itu tersebut untuk keluar dari relawan Teman Ahok dengan iming-iming uang Tunjangan Hari Raya (THR). Bahkan sebagian diantaranya,  dipaksa untuk hadir di acara press konperensi di Cikini pada Rabu (22/6)  jam 10.00. Mereka diminta untuk memberi keterangan agar menjatuhkan proses pengumpulan dukungan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Teman Ahok yang sudah mencapai angka 1 juta tersebut.

Dari sejumlah orang yang diajak, akhirnya hanya lima orang saja yang bersedia mengikuti ajakan Alex, yaitu Paulus Romindo, Dodi Hendrayadi, Richard Sukarno, Dela yang juga merupakan anak dari Richard Sukarno, dan Khusnul Nurul. Dodi dan Richard sudah dikeluarkan dari keanggotaan relawan Teman Ahok per Februari 2016. Mereka dikeluarkan menjelang proses pengumpulan KTP baru (Ahok – Heru).

Alasannya, mereka berbuat curang dengan menggandakan KTP dan juga KTP bodong yang secara jelas dilarang keras dan  sudah diatur dalam peraturan sebagai anggota relawan Teman Ahok.

Karena itu, aksi pembusukan ini sangat kental kaitannya dengan ancaman yang pernah dilontarkan oleh Adian Napitupulu (Ketua Pospera) bahwa akan ada gesekan antara relawan temanahok dengan relawan Jokowi.

Pospera juga sangat kental kaitannya dengan PDI Perjuangan, dimana Adian merupakan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan.

PDI Perjuangan semakin kental terasa perannya karena pada acara ILC 21 Juni 2016, Junimart Girsang mengatakan bahwa 14 jam lagi Teman Ahok akan mendapatkan serangan lagi yang kemudian pas waktunya dengan acara konfrensi pers dari bekas Teman Ahok di Cikini.

Semua keterangan diatas berdasarkan pengakua yang disampaikan oleh salah satu relawan yang dipaksa oleh Alex untuk keluar dari relawan Teman Ahok.

Sekedar catatan, peran Alex selama di Pospera adalah sebagai pembagi dana jika Pospera akan melakukan aktivitas lapangan.  Adapun Richard ini pekerjaannya adalah sebagai Debt Collector

Namun semua yang dikeluarkan ini sudah pernah kena surat peringatan karena berbuat curang demi mendapatkan uang transportasi. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Amalia bahwa jika relawan hanya mengejar uang, maka tidak akan bisa bertahan karena memang perjuangan relawan temanahok bukan demi mengejar keuntungan, tetapi merupakan panggilan jiwa.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum bisa menghubungi Ketua DPW Pospera maupun politikus PDI Perjuangan Adian Napitupulu. Redaksi akan terus berusaha untuk mendapatkan keterangan pihak-pihak terkait diatas.