Presiden: Harus Mulai Berpikir Konversi ke Energi Terbarukan

9
Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant di Lombok, NTB, Sabtu (11/6).

LOMBOK-Kontribusi sector energy terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat besar. Bahkan, energy menjadi salah satu factor kunci pendorong pertumbuhan. Karena itu, harus mulai dipikirkan konversi ke energy terbarukan guna mengatasi kelangkaan energy nasional. “Ini harus mulai berpikir ke konversi perpindahan energi bersih, energi yang terbarukan. Memang yang masih banyak adalah yang kurang. Seperti di NTB ini masih kurang. Insya Allah bulan Agustus akan rampung mobile power plant. Kemudian ada juga datang yang kapal, juga di NTB September, Oktober,” tutur Presiden Joko Widodo kepada wartawan usai melakukan groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) Jeranjang berkapasitas 2×25 mw di Desa Kebunayu, Kecamatan Grrung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/6).

Menurut Presiden, pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan harus diantisipasi dengan baik, terutama soal pasokan energy. Sebab, ketidakmampuan mengantisipasi kebutuhan energy justru berdampak stagnannya pertumbuhan ekonomi.  “Jangan sampai ada pertumbuhan ekonomi tidak diantisipasi sehingga pertumbuhan itu menjadi berhenti atau malah turun. NTB tadi saya sampaikan pertumbuhan ekonomi 9,9 persen,” tutur Presiden.

Lebih lanjut, Presiden mengaku, sumber energy saat ini memang banyak yang masih mobile power plant. Untuk kedepan, nanti akan dilihat lagi yang hydro power plant dan PLTU yang besar-besar. “Kalau nanti sudah jalan, kita ingin melihat provinsi-provinsi yang kurang itulah yang kita tambahi terlebih dahulu, yang kurang dikejar untuk ditambah biar tidak ada pemadaman listrik lagi. Kalau sudah cukup, itu yang akan kita perluas lagi,” ujar Presiden.

Proses ekspansi, jelas Presiden, harus melihat perkembangan setiap tahun. Apakah itu akan ada pertumbuhan atau  ada permintaan tambahan energy. “Ini saya ke lapangan ingin melihat langsung progres perkembangan setiap proyek pembangunan yang telah kita putuskan,” tuturnya.

“Sekarang, kita mengejar kecepatan itu yang MPP, 6-7 bulan rampung. Meski dalam jangka panjang kita lihat cost-nya, mana yang murah. Memang, masih batubara. Tetapi ke depan karena kita punya potensi air, sungai, hydro juga sebentar lagi akan kita tunjukkan dimana nanti yang hydro,” pungkas Jokowi.