Presiden: Pungli Penyakit Bangsa Kita

33
Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla

BANTEN-Presiden Joko Widodo mengatakan negara Indonesia tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, tapi juga manusia yang memiliki integritas dan kejujuran untuk bersama mengelola negara Indonesia ini. Sebab faktanya saat ini, banyak orang pintar tetapi masih senang melakukan pungutan liar (pungli). “Banyak yang pintar-pintar, tapi senangnya pungli. Ini yang menjadi penyakit bangsa kita,” kata Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan pengurus besar Al-Khairiyah di Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Banten, Sabtu (22/10).

Untuk itu, Presiden menekankan pentingnya memperhatikan karakter dalam pembangunan manusia. Integritas dan kejujuran ialah salah satu dari sekian banyak nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

Presiden mengaku masalah pungli menjadi perhatian khusus pemerintah saat ini. Dengan melihat kondisi perizinan di sejumlah instansi yang menjadi lebih sulit atau berbelit-belit akibat adanya pungli, Presiden merasa perlu untuk turun tangan langsung.

Apalagi Indonesia kini sedang berusaha agar mampu menjadi negara yang ramah investasi. “Dari survei kemudahan berinvestasi, Indonesia ada di nomor 109. Singapura di nomor satu, Malaysia nomor 18, Thailand nomor 49. Jangan ditepukin, ada yang mau tepuk tangan. Inilah persoalan besar kita,” ungkap Presiden.

Oleh karenanya, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas, tapi juga yang memiliki integritas dan kejujuran untuk bersama mengelola negara Indonesia ini.

Presiden lantas membagi pengalaman yang pernah dihadapinya saat mengurus perizinan berpuluh tahun lampau yang mungkin masih bisa ditemui hingga kini. “Tahun ’87-’88, mau urus izin berbelit-belit dan diminta ini itu di setiap meja. Pasti diminta rupiah tertentu. Inilah yang harus kita selesaikan kalau kita ingin peringkat kita naik. Oleh sebab itu dibutuhkan SDM yang memiliki integritas,” kata Presiden.