Primadona Eskpor, Buah Manggis dan Sarang Burung Walet Diminati Dunia

72

TANGERANG-Tren eskpor hasil pertanian Indonesia ke sejumlah negara di dunia menunjukkan perolehan yang gemilang. Dari tahun ke tahun, angka ekspor produk tani terus meningkat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor pertanian Indonesia di tahun 2017 mencapai U$33,1 miliar atau tumbuh 24 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar U$26,7 miliar.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI, Banun Harpini menerangkan, sejumlah negara tujuan ekspor seperti Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang masih yang teratas menikmati hasil petani di Indonesia.

“Untuk tahun 2017 dan2018 ini buah manggis adalah primadona eskpor pertanian kita, dari target 20 ribu ton pertahun, baru bulan 6 ini saja sudah tembus 29.500 ton. Ini luar biasa,” kata Banun, di gedung 600 Bandara Soekarno-Hatta.

Komoditas kedua hasil petani yang juga diminati warga asing lainya, terang Banun adalah sarang burung walet, yang dihasilkan dari petani-petani walet di Indonesia.

“Nilai ekspor ini mencapai Rp29 triliun di tahun 2017 lalu. Rp 2 triliun dari negara Tiongkok sisanya Rp27 triliun ke negara lain,” ucap dia.

Dia berharap produktifitas hasil pertanian Indonesia bisa terus ditingkatkan baik sisi kualitas maupun kwantitas.

“Kita mengajak publik untuk menjaga kekayaan sumberdaya pertanian kita dan juga mendorong agar produk yang dihasikan petani berdaya saing dan memberikan nilai lebih bagi mereka”, katanya.

Pihaknya juga terus mendorong kinerja BKP untuk bisa melakukan pembimbingan dan pembinaan terhadap petani dan pengusaha ekspor pertanian.

Diantaranya dengan meluncurkan 4 produk layanan publik sebagai upaya gerkana bersama ekspor terhadap produk-produk petani saat ini.

Seperti diantaranya, sistem inline inspection, protokol karantina, sertifikat elektronik dan sistem IQFAST.

“Inline inspection adalah upaya Kementan dalam memenuhi persyaratan phytosanitary negara tujuan ekspor melalui pendampingan dari mulai hulu hingga hilir, seperti pemenuhan Good Agricultural Practice dan Good Handling Practice di tingkat petani,” terang Banun.

Sedangkan protokol karantina adalah upaya Badan Karantina Pertanian dalam memperjuangkan agar produk-produk pertanian kita dapat diterima masuk ke negara tujuan dengan persyaratan yang telah disepakati.

“Hal ini dilakukan kebeberapa tujuan ekspor, antara lain Tiongkok, Australia, NZ, Ukraina, Timor Leste,” ucap dia.

Beberapa negara juga sudah bekerjasama terkait pengiriman sertifikat electronik karantina. Upaya ini dilakukan agar proses ekspor berjalan cepat, paperless dan mudah.

Untuk sistem pelayanan permohonan karantina sendiri Badan Karantina Pertanian juga sudah mengeluarkan inovasi terbaru berupa IQFAST.

Sistem ini dapat menampung kebutuhan pengguna jasa berupa waktu layanan yang cepat dan transparansi biaya serta kebutuhan internal untuk pengawasan. (Raja Tama)