Produk Tekstil Didorong Diversifikasi Perkuat Industri Fesyen

64
Menperin Saleh Husin bersama Direksi Sipata Moda Ian Syarif, Direktur Utama Sinar Para Taruna Slamet Wijono, Anggota Komisi X DPR-RI Fraksi Hanura Dadang Rusdiana, dan Komisaris Sipatatex Dora Widya Sutanto di pabrik PT. Sinar Para Taruna (Sipatatex) di Batujajar, Kabupaten Bandung, (25/6).

BANDUNG-Industri tekstil di Indonesia didorong melakukan diversifikasi produk ke arah untuk kebutuhan fesyen. Langkah pengembangan seiring dengan berkembangnya industri fesyen dan kreasi desain oleh para desainer. ‚ÄúDiversifikasi itu menjadi langkah strategis mengingat saat ini perkembangan permintaan pasar terhadap bahan baku untuk kepentingan fesyen yang relatif spesifik semakin tinggi dan sayangnya sebagian besar dipenuhi dari impor,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Saleh Husin mengatakan hal itu saat mengunjungi PT Sinar Para Taruna dan Sipata Moda, (Sipatatex group), di Batujajar, Kabupaten Bandung, Sabtu (25/6).

Termasuk industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), Sinar Para Taruna memproduksi kain rajut sedangkan Sipata Moda menghasilkan kain brokat.

Untuk itu apabila Sinar Para Taruna dan Sipata Moda dapat memproduksi bahan baku kain khususnya untuk kepentingan fesyen, maka didapat keuntungan yaitu penghematan devisa.

Menteri Saleh juga mengapresiasi dua perusahaan itu karena konsisten memproduksi barang sejenis untuk kepentingan pasar dalam negeri dan ekspor yang selama ini pasarnya telah terbentuk. “Sipatatex juga berkontribusi dalam menyerap produk dalam negeri karena menggunakan bahan baku produksi PT Indorama Synthetics Tbk dan PT Indonesia Toray Synthetics,” katanya.

Kemenperin mencatat perkembangan industri TPT selama 2 tahun terakhir cenderung stagnan baik di pasar domestik maupun internasional sebagai akibat melambatnya perekonomian dunia.

Karena itu, pemerintah mengeluarkan berbagai paket kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi dengan melakukan deregulasi, memangkas berbagai peraturan, perizinan, dan birokrasi yang masih dirasa menghambat di berbagai kementerian dan lembaga.

Kemudian, menyusun sistem pengupahan untuk menjamin kepastian bagi tenaga kerja dan pelaku usaha, penurunan harga gas, diskon dan penundaan pembayaran rekening listrik bagi industri, dan beberapa kebijakan lainnya. “Pengembangan pusat logistik berikat juga didorong untuk memfasilitasi dan memudahkan pelaku industri,” kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka KemenperinHarjanto yang didampingi Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka, Muhdori.

Menurut Direktur Utama Sinar Para Taruna Slamet Wijono, perusahaannya telah menembus pasar dunia dengan mengekspor ke 28 negara seperti ke Asia, Eropa dan Timur Tengah termasuk Dubai, selain memasok ke dalam negeri. “Kapasitas produksi kami 30 juta yard per tahun dengan lebih dari 140 unit mesin. Nilai omzet mencapai Rp 250 miliar per tahun dan jumlah karyawan 1500 orang,” ungkapnya.

Sipatatex juga menjadi menyuplai untuk brand Wacoal, H&M, Walmart, Aeon, Uniqlo, Vanity Fair, dan Victoria’s Secret. Mereka juga memasok kain boneka Barbie yang diproduksi PT Mattel Indonesia di Cikarang. Selain itu, memproduksi kain untuk otomotif seperti untuk Toyota dan Honda.

Turut hadir Anggota DPR RI Dadang Rusdiana, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat, Komisaris Utama Sipatatex Group Chandra Winata, Komisaris Sipatatex Dora Widya Sutanto, Direksi Sipatatex Suhendro Nimantoro, dan Direksi Sipata Moda Ian Syarif yang juga seorang desainer fesyen.

Dadang Rusdiana mengatakan, industri yang terus tumbuh memperkuat optimisme bahwa produk nasional memiliki daya saing kuat di pasar dalam negeri bahkan global. “Kami di parlemen, tentu terus mengawal agar industri manufaktur yang telah berkontribusi pada PDB dan lapangan kerja semakin berkembang bahkan ekspansi, termasuk memperbanyak ragam produk,” tegasnya.