Prof Arbi Sanit: GNPF-MUI Memperalat MUI

564
Prof Dr Arbi Sanit

JAKARTA-Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Arbi Sanit menilai aksi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) yang terus melakukan perlawanan terhadap Gubernur Petahana DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama rawan diboncengi kelompok teroris yang ada di Indonesia. Kelompok ekstrim yang ‘berselimut agama’ ini terus memperalat MUI untuk mewujudkan tujuan mereka membangun negara Islam di Indonesia.  “Dari beberapa saksi ahli agama Islam yang dihadirkan, semuanya menampik tuduhan penistaan agama. Dan ingat, ahli agama yang dihadirkan ini memiliki posisi struktural di PBNU. Jadi, ilmu agama mereka tidak perlu di ragukan lagi,” ujar Arbi di Jakarta, Senin (10/4).

Kendati kesaksian ahli agama Islam tidak menemukan unsur menista agama dalam pidato Basuki berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik, kelompok berbaju putih ini terus menekan lembaga peradilan. Hal ini memperlihatkan nuansa politik dalam kasus Ahok ini sangat kental sekali.

Agenda politik ini dibungkus dalam balutan “agama” dengan motor utamanya, GNPF-MUI yang dipimpin Bachtir Nasir. “Sejak awal saya melihat, ini pengadilan politik yang dipaksakan. Modusnya dengan memakai lembaga,” terangnya.

Menurut Arbi, agenda politik GNPF MUI ini dengan cerdiknya memanfaatkan MUI. Apalagi, ormas yang bergabung di GNPF MUI ini sangat banyak. Mereka inilah yang terus memaksa MUI agar membuat pendapat dan sikap keagamaan MUI. “Ulama-ulama muda yang aktif di MUI berafiliasi dengan GNPF MUI. Mereka inilah yang aktif menekan ulama-ulama tua yang ada di MUI,” tuturnya.

Bahkan, ulama-ulama muda di MUI ini memiliki peran yang signifikan dalam membuat sikap dan pendapat keagamaan MUI.

Terbukti, mereka memanipulasi informasi. Sehingga data yang disampaikan ke ulama-ulama tua ini cenderung tidak berdasarkan fakta yang terjadi sebenarnya.

Dampaknya, ulama-ulama tua di MUI membuat kesimpulan-kesimpulan yang berpihak, tendensius serta menuduh sehingga tidak obyektif. “MUI diperalat oleh GNPF MUI ini dengan membuat laporan yang bias,” tuturnya.

Namun anehnya, MUI diam saja saat nama lembaganya dipakai untuk aksi demonstrasi demi kepentingan politik partisan ulama-ulama muda ini. “Mana ada majelis ulama demo? Kan aneh ini,” ujarnya dengan nada tanya.

Dia melihat, pendapat dan sikap keagamaan MUI ini lahir dari sebuah sikap benci. Para ulama muda partisan politik ini menggunakan segala macam cara untuk mengalahkan Ahok. Karena itu, mereka berselimut agama untuk menyerang Ahok.

“Sebut saja, Bahctiar Nasir. Dia ulama partisan serta pentolan FUI yang jelas-jelas pendukung Anies-Sandi. Jadi, memperjuangkan Islam ini hanya bungkusan atau selimut saja. Karena tujuan mereka sebenarnya tidak sekedar menggagalkan Ahok, tetapi mewujudkan Jakarta Bersyariah,” imbuhnya.

Dia menjelaskan upaya menggagalkan Ahok ini merupakan proyek kelompok Islam pendukung paslon nomor 3. Proyek menggagalkan Ahok ini mendompleng isu agama.

Para penganut dan pendukung gerakan Islamisme memperalat Ahok sebagai sasaran antara. “Jadi, ini motivasi dasarnya, bagaimana Ahok nggak jadi gubernur lagi. Kalau Ahok nggak jadi gubernur maka proyek khilafah di Jakarta tidak mendapat hadangan,” pungkasnya.