Proyek Jalan Tol Turunkan Angka Kemiskinan di Jatim

39
Infrastruktur mudik terus diperbaiki/photo istimewa

SURABAYA-Derasnya pembangunan proyek jalan tol ternyata berdampak positif pada pengangguran. Sehingga menurunkan angka kemiskinan. “Proyek tol membuka lapangan kerja. Sehingga menyerap banyak tenaga kerja,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, Selasa (19/7/2016).

Selain itu, kata Teguh, turunnya. angka kemiskinan juga disebabkan naiknya upah buruh dan inflasi yang cukup rendah 1,31 persen. “Selain itu, turunnya harga beras dan komoditas bahan pokok lainnya, seperti telor dan tempe juga mendorong turunnya angka
kemiskinan di Jatim,” tambahnya.

Data BPS Jawa Timur menyebutkan berdasarkan wilayah kota dan desa, penduduk miskin di perkotaan turun 0,47 poin persen, tapi penduduk miskin di perdesaan malah naik 0,17 poin persen.
Untuk jumlah penduduk miskin di Jatim, terjadi penurunan 0,23 poin persen. Yakni, dari 12,28 persen pada September 2015 menjadi 12,05 persen di Maret 2016.

Menurut Teguh, salah satu pemicu naiknya garis 
kemiskinan di Jatim adalah rokok filter. Sepanjang periode September 2015 hingga Maret 2016, garis kemiskinan 
di Jatim meningkat sebesar 1,67 persen atau Rp5.297 per kapita per bulan. Jika September 2015 hanya Rp316.46 per kapita per bulan, pada Maret 2016 naik menjadi Rp 321.761.

Dari sisi wilayah, kenaikan garis kemiskinan di perkotaan ternyata lebih tinggi sedikit dibanding perdesaan. “Untuk perkotaan, garis kemiskinan
meningkat sebesar 1,70 persen, sedangkan pedesaan hanya naik 1,68 persen,” ujarnya.

Kenaikan tersebut, meliputi garis kemiskinan makanan dan non makanan. Garis kemiskinan makanan untuk perkotaan mencapai 1,68 persen dan pedesaan hanya 1,22 persen.

Sedangkan garis kemiskinan
bukan makanan untuk perkotaan 1,75 persen dan pedesaan mencapai 3,11 persen.

Berdasarkan komoditas makanan, Teguh menyebut ada enam komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar pada garis kemiskinan makanan. Yakni, beras, rokok filter, gula pasir, telur ayam ras, tempe, dan tahu. “Ini terjadi di semua wilayah, baik pedesaan maupun perkotaan,” katanya.

Meski garis kemiskinan naik, dari sisi Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), BPS Jatim mencatat, selama satu semester ini terjadi penurunan 0,141 poin. Yakni, dari 2,126 pada September 2015 menjadi 1,985 pada Maret 2016.

Selain itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan, dari 0,139 poin menjadi 0,474 poin.

Kata Teguh, dari penurunan P1 dan P2 tersebut menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati garis kemiskinan.

Selain itu, ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga makin menyempit. Untuk jumlah penduduk miskin di Jatim, terjadi penurunan 0,23 poin persen. Yakni, dari 12,28 persen pada September 2015 menjadi 12,05 persen di Maret 2016. ***