Puso, Dongkrak Inflasi di Pebruari 2014

45

JAKARTA-Banjir parah yang melanda berbagai daerah di Indonesia membuat komoditi pangan utama gagal panen termasuk padi. Buntutnya, inflasi Pebruari 2014 melonjak, lantaran beras menjadi pendongkrak utama. “Kenaikan tertinggi terjadi di Tanjung dan Bekasi yang masing-masing naik 5%,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik, Adi Lumakson di Jakarta, Senin (3/3).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), beras memberikan andil dalam inflasi Februari sebesar 0,05%. Bobot di Indeks Harga Konsumen (IHK) pun mencapai 3,73%. Perubahan harga beras terhadap Januari 2014 sebesar 1,47%.

Kenaikan harga beras terjadi di 58 kota IHK. Selain beras, yang juga menyumbangkan inflasi adalah ikan segar, cabe rawit, emas perhiasan, tarif kontrak rumah, bayam, rokok filter, dan angkutan udara. Adapun inflasi Februari tercatat sebesar 0,26%. Sehingga inflasi tahunan atawa year on year mencapai 7,75%.

Berdasarkan catatan, BPS menyebut peningkatan produksi padi pada 2013 sebesar 2,24 juta ton atau 3,24% dibandingkan 2012 silam. Sehingga, produksi padi pada 2013 tercatat sebesar 71,29 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). “Kenaikan produksi terjadi di Jawa sebesar 0,97 juta ton dan di luar Jawa 1,27 juta ton. Kenaikan ini terjadi karena kenaikan luas panen seluas 391,69 ribu hektar atau 2,91% dan kenaikan produktivitas sebesar 0,16 kuintal per hektar atau 0,31 persen,” tambahnya

BPS mencatat penurunan pada produksi jagung pada tahun 2013 sebesar 0,88 juta ton atau 4,54%. Sehingga, produksi komoditas tersebut tahun 2013 diperkirakan mencapai 18,51 juta ton pipilan kering. “Penurunan produksi terjadi di Jawa sebesar 0,62 juta ton dan di luar Jawa 0,26 juta ton. Penurunan produksi terjadi karena penurunan luas panen seluas 137,43 ribu hektar dan penurunan produktivitas sebesar 0,55 kuintal per hektar,” ujar Adi.

Sementara itu, penurunan produksi juga tercatat pada komoditas kedelai sebesar 62,99 ribu ton dibandingkan tahun 2012. Sehingga, produksi kedelai pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 780,16 ribu ton biji kering. “Untuk semua produksi ini sebenarnya lebih dipengaruhi kandungan air. Selain itu kondisi kemarau basah juga mempengaruhi produktivitas,” pungkasnya. **