RI Negara Stabil, Fundamental Kuat Memacu Pertumbuhan Ekonomi

15
Menperin, Airlangga Hartarto

JAKARTA-Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto mengaku banyak perwakilan negara lain menyatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang stabil secara politik dan ekonomi. Ini menjadi fundamental yang kuat dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

“Apalagi, dengan ketersediaan jumlah tenaga kerja, Indonesia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi perusahaan-perusahaan di dunia untuk mendiversifikasi produknya, seperti dari China,” ujarnya.

Terkait adanya isu perang dagang yang berkembang dan kondisi ketidakpastian di tingkat global, Menperin menilai, hal itu bisa menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengelola norma baru dengan pertumbuhan saat ini.

“Langkah quick wins yang dilakukan, salah satunya mendorong peningkatan investasi di lima sektor unggulan pada Making Indonesia 4.0. Jadi, kita konsisten saja dengan investasi di lima sektor itu, karena mempunyai pasar yang besar,” tuturnya.

Kemenperin terus mendorong peningkatan investasi guna lebih memperdalam struktur industri di dalam negeri, yang juga bertujuan untuk mensubstitusi produk impor.

Investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018.

Di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lambat, menurut Airlangga, Indonesia mampu mengatasinya dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi berkisar 5,2 persen dalam lima tahun terakhir.

“Dari capaian itu, kami bisa menyediakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan yang angkanya terendah dalam empat tahun terakhir,” tuturnya.

Bahkan, di tengah perang dagang Amerika Serikat dan China, Indonesia mengalami keuntungan darisituasi tersebut.

“Bagi dua negara itu akan melihat ke kawasan regional lain, termasuk ke Indonesia. Jadi, adainvestasi baru yang akan komit ke Indonesia, ini juga bisa dilihat sebagai stabilisasi bagi wilayah kita,”jelasnya.

Kendati demikian, Menperin berharap, AS dan China bisa lebih menjalin hubungan yang harmonis, sehingga perekonomian Indonesia ikut berjalan lebih cepat.

“Yang paling penting adalah globalisasi. Standardisasi jadi penting, kalau kita melakukan perdagangan dengan standar global,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Indonesia telah menyiapkan melalui peta jalan Making Indonesia guna meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global.

“Di roadmap itu sudah jelas target yang tercantum, bahwa tahun 2030, Indonesia akan menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia. Kemudian, menuju 100 tahun kemerdekaan Indonesia di 2045, PwC menyampaikan Indonesia bisa menduduki peringkat ke-4 dalam perekonomian dunia,” paparnya.

Keikutsertaan di WEF 2019 merupakan langkah untuk kalibrasi kebijakan Indonesia terkait digitalisasi ekonomi serta globalisasi.

“Dengan globalisasi, atau lebih tepatnya glokalisasi ekonomi, kami ingin melihat dan merangkul lebih banyak komunitas, negara serta korporat untuk rekalibrasi kebijakan di Indonesia,” kata Airlangga.

Menurutnya, langkah ini penting untuk mengetahui arah dan tujuan pembangunan Indonesia ke depan.