RPI Dukung PTDI Perkuat Pertahanan RI

RPI Dukung PTDI Perkuat Pertahanan RI

215
0
BERBAGI
Tim RPI bersama Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Agung Purnomo/Dok. RPI

BANDUNG-Direktur Riset Respublica Political Institut (RPI) Raymond Jr. Sihombing mengapresiasi usaha PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menghidupkan gairah industri militer dalam negeri. Sinergi ini merupakan salah satu cara memperkuat pertahanan negara Indonesia di masa depan.

Menurut Raymond, perebutan pengaruh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia di Indonesia harus dapat ditanggapi secara bangga oleh Indonesia.  “Hal ini sebagai bukti bahwa Indonesia masih diperhitungkan sebagai kekuatan besar di antara negara-negara ASEAN maupun diantara negara-negara Asia Pasifik,” jelas Raymond yang juga Doktor Hukum Luar Angkasa dari Universitas Persahabatan Bangsa-bangsa Rusia di Moskow ini dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/2).

RPI sendiri mengikuti kunjungan kerja Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Agung Pramono S.H., M.Hum. dan Kapuspen TNI Mayjend Tatang Sulaiman beserta sejumlah besar perwakilan dari media yang difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan RI ke PTDI di Bandung, Kamis (11/2).

Menurut Raymond, fenomena ini merupakan sinyal bagus bagi negara Indonesia. Karenanya, pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan segala kesempatan yang ada dan yang ditawarkan oleh masing-masing negara tersebut dengan tetap memegang teguh prinsip politik bebas aktif.

Ia menyarankan agar Indonesia juga merangkul Rusia untuk memberikan masukan dan kontribusi bagi perkembangan dan kemajuan industri pertahanan Indonesia. “Selain itu, anggaran untuk riset di PTDI juga harus ditingkatkan supaya melahirkan inovasi yang cemerlang,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PTDI Budi Santoso menyatakan kesiapan PTDI mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kemampuan Minimum Essential Force (MEF) atau Kekuatan Pokok Minimum dalam mewujudkan target di bidang pertahanan negara. Kekuatan Pokok Minimum (MEF) merupakan proses modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia yang terbagi dalam tiga rencana strategis hingga tahun 2024. Bahkan dalam 5 sampai 10 tahun ke depan, selain proyek pesawat komersil N-245 dan N 219, PTDI optimis akan dapat merealisasikan proyek pesawat tempur KF-X dan IF-X dan beberapa jenis pesawat militer lainnya.

Asrenum Panglima TNI Laksda TNI Agung Pramono dan Kapuspen TNI Mayjend Tatang Sulaiman dalam kesempatan itu memberikan paparan detail mengenai peranan industri strategis Indonesia untuk memperkuat TNI sebagai benteng NKRI. Laksda Agung Pramono menyatakan sangat optimis terhadap kebangkitan kembali industri pertahanan Indonesia khususnya PTDI dalam memperkuat TNI.

Agung Pramono mengajak seluruh komponen terkait untuk bersama-sama memajukan Pertahanan Indonesia dengan memberikan perhatian khusus bagi kemajuan industri pertahanan nasional yang salahsatunya digerakkan oleh PTDI.

Menurutnya, sebuah negara akan mampu menjaga keutuhannya jika didukung oleh militer yang kuat. Dan negara akan memiliki militer yang kuat apabila didukung oleh kemampuan industri pertahanan dalam negeri yang besar.

Secara khusus Asrenum Panglima TNI tersebut mengatakan bahwa tidak semua kekuatan alutsista Indonesia berasal dari Industri pertahanan dalam negeri. Beberapa produk seperti pesawat tempur Sukhoi merupakan produk impor dari Rusia. Terkait mengenai pengadaan pesawat tempur Sukhoi terbaru yang mengalami kesulitan dalam pembiayaan karena pengaruh kurs dollar, dirinya merasa optimis bahwa jika pihak Rusia bersedia melakukan terobosan baru yakni transaksi dengan sistem pembayaran yang menggunakan matauang Rupiah dan matauang Rubel Rusia, kesulitan itu akan teratasi.

PTDI merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang didirikan pada tahun 1976 di Bandung. Produk utama PTDI adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa rekayasa dan jasa perawatan pesawat terbang. Selain untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri, PTDI telah berpengalaman menghasilkan pesawat terbang dengan skema produksi bersama dengan mitra strategis internasional seperti Airbus Defence and Space, dan dengan Airbus Helicopters. Meskipun sempat nyaris tutup, pada 2007 lalu PTDI mendapatkan angin segar dan dukungan untuk bangkit menjadi kekuatan strategis dalam industri pertahanan dalam negeri.