Rupiah Bisa Tembus Rp 10.000 per Dollar AS

117

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (27/6) diperkirakan kembali melemah karena respon negatif pelaku pasar terhadap rencana The Fed yang mengurangi skala pembelian surat berharga guna memompa likuiditas di Amerika Serikat (AS). “Rupiah diperdagangkan di range 9.940-10.000 per dollar AS,” ujar analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Rabu (26/6).

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal. Selain data ekonomi AS, data-data ekonomi China yang masih negatif. Yang terbaru, China mengetatkan likuiditas untuk sistem perbankannya.  “Krisis likuiditas dari People’s Bank of China (PBoC) masih terjadi,” tutur dia.

Kekeringan likuiditas jelas dia memicu kejatuhan bursa saham Shanghai dan Asia. Pasalnya, toleransi atas krisis likuiditas membuat suku bunga acuan di China naik, dan sempat menyentuh angka 12 persen. Akibatnya sudah jelas, aliran dana asing yang keluar (capital outflow) dari dalam negeri terjadi secara intens.

Kondisi ini mengindikasikan, pemulihan ekonomi China belum berjalan normal. Apalagi, data manufactur China juga belum membaik. “Jadi, belum pulihnya kondisi ekonomi global menekan rupiah,” kata dia.

Sementara itu, dari dalam negeri kata dia  kenaikan BBM juga membuat investor khawatir. Hal ini membuat capital outflow yang terjadi kian besar.  Dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai 2,6 miliar dollar AS. “Pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap data inflasi maupun data soal suku bunga acuan atau Bi rate,”imbuh dia.

Karena itu, dia memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih tinggi. Namun Bank Indonesia (BI) terus menjaga rupiah agar tidak menembus level 10.000 rupiah. “Bank sentral stand by dipasar uang menjaga rupiah di level 9.950 agar tidak memembus level psikologisnya,” pungkas dia.