Rupiah Sepekan Melemah

46

JAKARTA-Kepala Divisi Treasury BNI, Nurul Eti Nurbaet mengatakan nilai tukar rupiah selama perdagangan sepekan melemah dengan  closing rate BI berada di level 9709. Pelemahan rupiah disebabkan tingginya demand dollar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir bulan di tengah naiknya permintaan dollar  AS secara regular para eksportir untuk keperluan ekspor.”Rupiah ikut terdepresiasi akibat meningkatnya tekanan dollar  AS di pasar global,” ujar Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta, Jumat (22/2).

Menurut dia, pelemahan rupiah juga terjadi setelah FOMC Minutes mengkonfirmasikan kemungkinan  percepatan penghentian stimulus yang saat ini dijalankan The Fed. Pertemuan FOMC Federal Reserve kembali membuat investor cemas terhadap kelanjutan upaya pemulihan ekonomi global. “Adanya perbedaan pendapat antara pihak yang pro stimulus dengan pihak yang meminta stimulus dihentikan menjadi pemicunya. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar khawatir sehingga mereka kembali memburu dollar AS dan melepas mata uang berisiko,” tutur dia

Namun pelemahan rupiah tertahan derasnya capital inflow yang masuk ke pasar keuangan domestik, khususnya di bursa saham  dan  obligasi. IHSG tercatat membukukan rekor tertinggi setelah ditutup di level 4642, 553  dan kepemilikan asing melonjak hingga lebih dari 279 miliar dollar AS.

Dia memperkirakan, intensitas tekanan dollar AS diperkirakan terus meningkat seiring kian dekatnya tenggat akhir bulan. Pudarnya nuansa risk appetite semakin mengunggulkan dollar  AS atas major currency, termasuk regional currency  dan rupiah. “Tetapi rilis data ekonomi makro seperti inflasi, ekspor, impor dan neraca perdagangan  di akhir pekan diestimasi bisa mengurangi tekanan atas rupiah jika dirilis lebih baik  dari ekspektasi.,” pungkas dia