Saat Antasari Jadi Tersangka, Aneh..Tak Ada Demo Mahasiswa

23

JAKARTA-Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mengaku sangat terkejut ada orang asing yang berkantor di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Peristiwa itu terjadi saat menjadi pimpinan KPK, 2002.

“Saat masuk lift kantor, tiba-tiba saja, ada dua orang bule bersamaan masuk. Saya kaget sekali,” katanya dalam dialektika demokrasi “Mengintip Figur Dewas KPK” bersama anggota Komisi III DPR RI FPDIP, Trimedya Panjaitan dan mantan Wakil Ketua Komisi Yudisial (KY), Abbas Said di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Menurut Antasari, dirinya merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang asing tersebut. Kemudian minta Kesekjenan untuk mengonfirmasi kedua orang itu. Usut punya usut ternyata orang asing itu dari LSM (NGO – Non Governmnet Organization).

“Sejak itu, saya minta LSM itu diusir dari kantor KPK. Karena KPK ini bagian dari lembaga negara, maka tak boleh LSM ada dan terlibat dalam kerja-kerja KPK,” tambahnya.

Menurut Antasari, baik UU KPK maupun putusan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 36/PUU-XV/2017. Di mana dinyatakan bahwa KPK merupakan bagian dari cabang kekuasaan pemerintahan. KPK termasuk ranah kekuasaan eksekutif yang sering disebut lembaga pemerintah (regeringsorgaan– bestuursorganen).

Sejak mengusir NGO tersebut, lalu Antasari sering demo. Lalu, apakah sekarang ini banyak LSM di internal KPK, ia menegaskan tidak tahu persis. “Yang jelas, sejak saya tidak memimpin KPK, siapapun yang protes dan kritik KPK selalu dilawan. Termasuk oleh kalangan LSM tadi,” jelas Antasari.

Malah Antasari mempertanyakan sebagian kalangan, saat dirinya dijadikan tersangka. Tidak ada satupun yang memprotes, apalagi menggelar demo besar-besaran. “Anehnya saat saya dipenjara, tak ada yang bereaksi. Saya bertanya-tanya kenapa? Berbeda dengan sekarang, apakah karena saya tidak mendukung LSM,” ungkapnya seraya bertanya-tanya.

Bagaimanapun, kata Antasari, yang namanya lembaga negara itu tidak boleh melibatkan LSM. Karena itu ia mengakui wajar, kalau KPK sekarang ini berbeda dengan ketika ia memimpin KPK pada 2007 – 2009 silam. Sementara itu KPK sekarang ini diduga kuat banyak melibatkan kalangan LSM, dan banyak pula kelompok radikal yang ada di internal KPK tersebut.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR Trimedya Panjaitan mengatakan kemungkinan Antasari menjadi Dewas KPK masih terbuka, karena prosesnya baru berjalan. Apalagi Antasari sudah dapat grasi dari Presiden Jokowi. “Pak Pratikno masih menyeleksi. Juga tak mungkin muncul nama Antasari tanpa ada dasarnya,” katanya.

Sedangkan Abbas Said membantahkan keberadaan Dewas akan melemahkan KPK. Justru saat ini Dewas KPK itu sangat diperlukan. Contohnya, seseorang status tersangkanya digantung KPK sampai meninggal dunia, tanpa SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyelidikan), sedangkan bukti-buktinya tidak kuat, bagaimana? “Kasihan keluarganya, sampai meninggal tetap tersangka,” ungkapnya.