Said Abdullah: Politik Untuk Wong Cilik

429
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR yang juga Politisi PDI Perjuangan, Said Abdullah

Dunia politik bagi Said Abdullah adalah wadah mengimplementasikan keberpihakan terhadap wong cilik (rakyat kecil). Komitmen itu diwujudkan oleh politisi PDI Perjuangan ini dengan senantiasa memperjuangkan APBN yang berorientasi pro poor budgeting atau anggaran yang berpihak kepada rakyat miskin.

Bagi masyarakat Madura, nama Said Abdullah, sudah tidak asing lagi. Nama itu sangat familiar dan popular di seantero pulau Garam ini.

Pria paruh baya kelahiran Sumenep 22 Oktober 1962 ini adalah seorang pengusaha sukses dengan berbagai karya nyata. Sepak terjang di dunia bisnis sudah tidak diragukan lagi. Bahkan dijuluki pengusaha bertangan dingin dengan sejumlah perusahaan yang dikelolanya.  Tak hanya sebagai pebisnis handal, masyarakat Madura juga mengenalnya sebagai sosok politisi sejati dan aktif menyapa konstituennya. Tidak hanya saat reses, ditengah kesibukan dengan seabrek agenda sidang di DPR, Said selalu menyempatkan diri menyapa masyarakat ditanah kelahirannya ini.

Putra Madura yang lahir dari pasangan (alm) Fatimah Gauzan dan Abdullah Syekhan Baqraf ini  memang dikenal sebagai sosok humanis sejati. Dia dikenal banyak kalangan sebagai tokoh yang sangat dekat dengan wong cilik . Citra ini melekat kuat dalam ingatan masyarakat Madura.

Said memang sangat vokal. Dalam mengartikulasi perjuangan hak-hak rakyat kecil, dia sangat menonjol. Bukan hanya masyarakat dimana dia berasal namun seluruh rakyat Indonesia. Karena ketika dipercaya menjadi wakil rakyat di Senayan maka dia juga harus memperjuangkan nasib seluruh rakyat Indonesia.

Bagi Said Abdullah perjuangan membela wong cilik tidak boleh dilakukan setengah hati. Salah satu wujud nyata perjuangannya adalah melalui politik anggaran. Sebagai wakil rakyat yang turut serta mendesain kebijakan anggaran,  suami dari Khalida Ayu Winarti  ini, senantiasa berjuang agar anggaran harus berpihak pada rakyat kecil. “Sebab bagi saya,  APBN bukan hanya sekedar perwujudan pengelolaan keuangan saja tetapi merupakan wujud dari kedaulatan rakyat. Karenanya, anggaran yang ada harus bisa mensejahterakan rakyat kecil,” urainya.

Komitmennya sebagai politisi yang berada pada posisi terdepan membela wong cilik inilah yang membuatnya semakin dicintai oleh konstituennya.  Terbukti,  ayah empat anak yang bisa dipanggil Buya Said ini terpilih menjadi wakil rakyat hingga 3 periode.

Pada pemilu 2004-2009, Said terpilih menjadi DPR RI dari PDI Perjuangan. Karier politiknya terus berjalan mulus hingga pada pemilu periode 2009-2014, Said kembali mendapat amanah dari masyarakat Madura. Pada periode sebelumnya Said bertugas di Komisi VIII yang membidangi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan.

Dan lagi-lagi, pada periode 2014-2019, Said terpilih kembali sebagai wakil masyarakat Madura dari PDI Perjuangan. Dan saat ini, dia ditugaskan oleh fraksi PDI Perjuangan di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan. Tak hanya itu, PDI Perjuangan juga menugaskannya sebagai salah satu pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPR. “Saya harus mempertanggungjawabkan amanah masyarakat Madura dengan baik,” imbuhnya.

Tak heran mengherankan jika sosok bersahaja ini tidak pernah lelah memperjuangkan nasib masyarakat Madura.  Perhatiannya pun tidak sebatas masyarakat yang tinggal di Madura,  tapi juga warga Madura yang berada di daerah lain.

Bagi Said, keberpihakan terhadap wong cilik ini memang sudah menjadi komitmennya sebagai politisi yang ingin berjuang dan mengabdi menyejahterakan rakyat.  “Bagi kami di PDI Perjuangan, politik yang membangun peradaban itu adalah politik yang berpihak dan memberi harapan bagi wong cilik untuk bangkit dengan seluruh martabat kemanusiaannya. Ini artinya, politik yang membangun peradaban itu untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan,” jelas ayah dari Kaisar Kiasa Kasih Said Putra, Lillahi MAS Bergas DaMarcil, MAS Azel Haq Sang Patroakh dan Seta Zerlinda Saneta Sawina ini.

Tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yang demokratis,  bakat politik Said sudah mulai terlihat sejak muda.  Said mewarisi darah politik sang ayah.  Ini terlihat saat Said dipercaya memangku jabatan sekretaris DPC PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dan Ketua Majelis Muslimin Indonesia dalam usia yang relative muda (kelas 3 SMA). “Dari sini, awal saya memulai karir politik praktis dan sampai 2016 ini,  sudah lebih separuh umur saya mengeluti dunia politik,” katanya.

Merasa habitatnya di dunia politik, Said pun semakin aktif di dunia politik setelah lulus SMA pada tahun 1984. Perkenalan  Megawati Soekarnoputri (Kala itu Mega DPC Jakarta Selatan) yang datang ke Sumenep pada 1986 saat menyaksikan acara kerapan sapi, semakin memantapkan niatnya terjun ke dunia politik. “Mengenal ibu Mega ketika rombongan Suryadi sebagai Ketum PDI datang ke rumah sebagai Sekretariat Partai dan saat beliau mengatakan kerapan sapi memperebutkan piala PDI,” kenangnya.

Hingga akhirnya pada tahun 1986 atau di usia 23 tahun terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Partai (MPP) Pusat dan termuda se Indonesia.

Anggota DPR, Said Abdullah saat reses di Dapil Jatim XI
Anggota DPR, Said Abdullah saat reses di Dapil Jatim XI

Maka, dia pun memutuskan untuk menetap di Jakarta.  “Yang membentuk karakter politik saya, yakni dari tahun 1982 sampai 1988. Baru bisa mulai mandiri di dunia politik pada awal tahun 90-an,” terangnya.

Pengalaman demi pengalaman menempanya menjadi politisi matang. Perlahan, Said membentuk jaringan ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Meski awalnya tidak pernah bermimpi untuk menjadi wakil rakyat di Senayan, namun  partai justru memberinya amanah. “Keinginan saya menjadi wakil rakyat ditingkat kabupaten. Waktu itu, mau ambil dapil Cilacap, tempat kelahiran istri. Tapi, DPP justru mengamanatkan di DPR RI Dapil Madura. Karena perintah partai, saya jalani meski saat itu butuh perjuangan yang keras dan perlu meyakinkan pada publik,” ujarnya.

Semula, pria ini mengaku tidak tertarik untuk terjun di dunia politik. Alasannya, gaji sebagai anggota DPR sangat kecil, apabila dibandingkan dengan pendapatannya sebagai pengusaha batubara. “Saya pebisnis batubara yang setiap tahunnya mampu memasok 300 ribu ton. Gaji saya pada tahun 1997, mencapai Rp 69 juta. Pikiran sederhana, ngapain harus jadi anggota dewan yang gajinya waktu itu hanya Rp 4,2 juta,” ucapnya.

Namun sebagai kader yang loyal terhadap partai, Said akhirnya menerima amanah partai.  Maka, pada tahun 1999, Said memutuskan menjadi caleg dari dapil Madura.  Keputusan ini dibuatnya dengan pertimbangan yang matang.  Karena baginya, untuk menata masyarakat menjadi lebih baik dalam berbagai hal, termasuk ekonomi, harus dilakukan melalui kebijakan politik.

Menurutnya, menjadi anggota DPR merupakan salah satu cara yang efektif untuk merealisasikan cita idealnya membangun tatanan masyarakat yang lebih ideal, sesuai dengan harapan. “Masyarakat Madura harus makmur, sejahtera  dan maju. Dan ini sudah menjadi komitmen saja,” tandasnya.

Pengagum Bung Karno

Sebagai bagian dari keluarga besar Marhaen, Said mengaku sangat mengagumi Soekarno. Bahkan, ia memiliki foto khusus mantan Presiden Republik Indonesia ini dalam ukuran besar. Tidak hanya itu, Said memiliki koleksi buku-buku Bung Karno.

Selain mengoleksi, dia juga rajin membolak-balik halaman demi halaman dari koleksinya itu. “Saya melihat Soekarno itu punya ajaran spesifik dan hebat, yaitu nasionalis yang relegius,” pujinya.

Tidak heran dia menyebut dirinya sebagai ‘anak ideologis’ Bapak Proklamator itu. Bahkan saking kagumnya pada Bung Karno, tanda tangan politisi asal Madura ini bertuliskan ‘Soekarno’. (echyintia h)