Said: APBN Masih Belum Memakmurkan Rakyat

Said: APBN Masih Belum Memakmurkan Rakyat

72
0
BERBAGI
Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah

JAKARTA- Fraksi PDI Perjuangan DPR RI  menilai politik anggaran pemerintahan masih jauh dari agenda Nawa Cita  sehingga sulit mewujudkan cita-cita Trisakti Bung Karno. Untuk itu, pemerintah harus  melakukan evaluasi menyeluruh atas pengalokasian anggaran dengan nomenklatur yang lebih jelas, rutin dan pembangunan (fisik dan non fisik) sehingga lebih mudah dalam melakukan pengawasan. “Kami minta agar porsi anggaran untuk pembangunan ekonomi rakyat diperbesar.  Ini penting guna mendekatkan agenda Nawacita,” ujar Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah di Jakarta, Selasa (26/4).

Menurutnya, APBN mempunyai nilai strategi bagi terwujudnya program pemerintah yang terangkum dalam program Nawacita. Karena itu, anggaran harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Sayangnya, jelas Said, sejauh ini APBN masih belum bersentuhan dengan tujuan untuk memakmurkan rakyat.  Pasalnya, anggaran lebih banyak berorientasi pada kerja rutin tahunan pemerintah dan merespon situasi makro ekonomi yang memiliki sifat jangka pendek. Akibatnya, APBN tidak mampu mengurangi angka kemiskinan, bahkan rakyat miskin jumlahnya  terus bertambah. “Padahal, kalau program Nawacita ini benar-benar berjalan maka cita-cita Trisaksi Bung Karno akan terwujud dan bangsa Indonesia akan menjadi raksasa ekonomi di dunia,” tuturnya

Selama ini jelas politisi senior PDI Perjuangan ini, setiap kenaikan APBN selalu dibarengi dengan peningkatan anggaran belanja rutin. Pola semacam ini harus dirubah sehingga anggaran yang tersedia benar-benar dialokasikan untuk rakyat. ”Dalam 10 terakhir,  nomenklatur anggaran kementrian/ lembaga hanya belanja aparatur dan belanja modal. Padahal dalam belanja modal masih ada belanja barang milik K/L. Dampaknya, pembangunan yang berorientasi rakyat kecil sekali,” terangnya.

Untuk itu, Said menyarankan agar dalam rangka pembicaraan pendahuluan RAPBN 2017,  pemerintah hendaknya  mulai melakukan perubahan nomenklatur.

Semestinya ujar Said, para menteri betul-betul memahami agenda Nawacita sebagai visi dan misi presiden.  Artinya, setiap peningkatan anggaran tidak serta merta menaikkan biaya rutin (operasional kantor) tapi justru anggaran pembangunan untuk masyarakatlah yang diutamakan.  “Mencermati alokasi anggaran yang sangat besar pada keperluan belanja rutin khususnya untuk operasional kant0r maka kami meminta indicator kinerja yang terukur oleh setiap Kementrian dalam urusan pelayanan public,” jelas anggota Komisi XI DPR ini.

Dia melihat, belanja pembangunan non fisik seperti kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, juga mendapatkan porsi yang besar dalam APBN.

Berdasarkan data, dari total anggaran sebesar Rp 57,12 Triliun di Kementerian Agama (Kemenag), porsi terbesarnya justru dipakai untuk belanja rutin sebesar Rp 33,4 Triliun (58,47%). Sedangkan anggaran untuk pembangunan sebesar Rp 23,7 Triliun (41,53%). “Alokasi anggaran pembangunan non fisik sebesar Rp 22 Triliun (38,53%) dan pembangunan fisik hanya sebesar Rp 1,7 Triliun (2,99%),” terangnya.

Demikian juga di Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, alokasi anggaran dalam APBN sebesar Rp 8,6 Triliun. Dari angka ini, sebesar Rp 1,2 Triliun (13,45%) dipergunakan untuk belanja rutin. Sementara untuk pembangunan anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 7,4 Triliun (86,55%).  “Pembangunan non fisik mencapai Rp 6,3 Triliun (73,49%) dan anggaran pembangunan fisik mencapai Rp 1,1 Triliun (13,07%).

Namun agar pemanfaatan anggaran efektif maka FPDI Perjuangan meminta agar setiap kegiatan pembangunan non fisik harus disertai pendamping. Syaratnya, pendamping harus berkualitas sehingga dapat mengarahkan kegiatan menjadi tepat sasaran, tepat manfaat dan berdampak kemajuan. “Kegiatan pembangunan non fisik yang pada umumnya menjadikan masyarakat sebagai sasaran kegiatannya perlu disertai dengan target dampak kemajuan yang akan dicapai melalui kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan dan pendampingan,” terangnya.