Samakan HTI Dengan Vatikan, Pernyataan Din Syamsuddin Menyesatkan

538
Din Syamsuddin dan Paus Fransiskus

JAKARTA-Pernyataan Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, atau dikenal dengan Din Syamsuddin bahwa perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang hendak mendirikan khilafah di Indonesia, sama dengan eksistensi Tahta Suci Vatikan yang menghilangkan sekat negara dan menjadi kiblat bagi umat Katholik di seluruh dunia, merupakan pendapat yang menyesatkan.

Pernyataan itu dapat merugikan Gereja Katholik dan umatnya di Indonesia, karena dilontarkan pada saat HTI dengan cita-citanya ingin membangun ideologi Khilafah di Indonesia dengan manggantikan Pancasila sebagai dasar negara, sedang menghadapi desakan publik untuk dibubarkan. “Saya kira, apa yang disampaika Din Syamsudin itu keliru dan tendensius,” ujar Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Salestinus di Jakarta, Minggu (16/7).

Menurut batasan yang ada, khilafah adalah sistim pemerintahan yang wilayah kekuasaannya tidak terbatas pada satu negara, melainkan banyak negara di dunia, yang berada di bawah satu kepemimpinan dengan dasar hukumnya adalah syariat Islam.

Dengan kata lain Khilafah merupakan kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, untuk menegakan syariat Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Sedangkan Tahta Suci Vatikan merupakan pusat pemerintahan Gereja Katholik yang bukan saja diakui oleh negara-negara di dunia, akan tetapi juga oleh subyek-subyek hukum internasional lainnya diakui sebagai sebuah entitas berdaulat yang dikepalai oleh seorang Sri Paus dengan hak dan kewajiban yang analog dengan negara berdaulat sebagaimana Tahta Suci Vatikan dapat melalukan hubungan diplomatik dan menempatkan perwakilan diplomatiknya di berbagai negara di dunia. “Tahta Suci Vatikan tidak pernah dalam mimpinya atau programnya ingin menggantikan ideologi Pancasila dan menempatkan ideologi Katholiknya menjadi dasar negara atau di negara manapun ketika Tahta Suci Vatikan menempatkan perwakilan diplomatiknya mengemban misi Gereja Katholik di suatu negara,” tegasnya.

Meskipun Tahta Suci Vatikan memiliki status ganda yaitu sebagai negara bagian dan sebagai Organisasi Gereja yang bersifat internasional bahkan menjadi subyek hukum Internasional, namun Tahta Suci Vatikan tidak pernah memiliki agenda untuk menjadikan ajaran Katholik menjadi ideologi negara dimanapun termasuk di Indonesia.

Bahkan Gereja Katholik dimanapun selalu menghormati Ideologi masing-masing negara dengan menempatkan perwakilan diplomatiknya di banyak negara termasuk Indonesia.

Karena itu tegas Petrus pernyataan Din Syamsuddin sangat tendensius, menyesatkan bahkan merugikan Gereja Katholik, Perwakilan Diplomatik Tahta Suci Vatikan di Jakarta dan Umat Katholik Indonesia, karena menganalogikan perjuangan HTI yang ingin membangun ideologi Khilafah di Indonesia dengan status Tahta Suci Vatikan, sebagai negara bagian Vatikan dan sebagai Organisasi Internasional.

“Sekali lagi Gereja Katholik tidak pernah secara politik berusaha untuk menggantikan ideologi negara Pancasila dengan Ideologi Katholik di Indonesia,” terangnya.

Menurutnya, Gereja Katholik sangat menghormati dan taat kepada hukum di negara-negara dimana Tahta Suci Vatikan menempatkan perwakilan diplomatiknya yang sejajar kedudukannya dengan perwakilan diplomatik negara lain.

“Bahwa Gereja Katholik dengan miliaran umatnya di seluruh dunia berkiblat ke Tahta Suci Vatikan, itu benar,” tuturnya.

Karena induk organisasi Gereja Katholik dan Hukum Kanonik berpusat di Vatikan. Namun demikian Tahta Suci Vatikan, Gereja Katholik dan umat Katholik Indonesia tetap konsisten dan komit untuk tetap menjaga dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila dan tidak pernah punya mimpin untuk menggantikan ideologi Pancasila dengan ajaran Katholik menjadi ideologi negara.