Selamatkan Banten, Cegah Kembalinya Tiga Bahaya Laten

Selamatkan Banten, Cegah Kembalinya Tiga Bahaya Laten

0
BERBAGI
DISKUSI SELAMATKAN BANTEN (dari kiri – kanan) : Budi Sabarudin (moderator), AM Putut Prabantoro (Konsultan Komunikasi Publik), H, Mulyadi Jayabaya (Ketua KADIN Provinsi Banten), H. Ahmad Subadri (DPD RI), dan Ananta Wahana (Koordinator Forum Semar – Semangat Rakyat), Tangerang, Minggu (23/10).

TANGERANG-Pilkada 2017 hendaknya digunakan masyarakat Banten sebagai momentum strategis untuk mencegah kembalinya 3 (bahaya) laten yang dihadapi provinsi ini. Ketiga bahaya laten yang dihadapi oleh Banten sejak dulu adalah, korupsi, dinasti dan tirani. Dalam konteks ini, para tokoh dan masyarakat Banten untuk melakukan gerakan bersama melawan kembalinya tiga bahaya laten tersebut.

Mencegah kembalinya tiga bahaya laten di Banten sama dengan memastikan bahwa pembangunan di Banten akan terus berlanjut. Masyarakat diminta untuk secara cerdas untuk memilih pasangan calon Gubernur dan Wakil yang tidak terkait dengan bahaya laten yang berkuasa pada masa lalu.

Demikian kesimpulan dari diskusi “Selamatkan Banten” yang diadakan Forum Semar (Semangat Rakyat) di Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis (PKKT), Bonang, Tangerang, Minggu (23/10).

Hadir sebagai pembicara adalah, Ananta Wahana (Koordinator Forum Semar), H. Mulyadi Jayabaya (Ketua KADIN Provinsi Banten), H. Ahmad Subadri (DPD RI), AM Putut Prabantoro (Konsultan Komunikasi Pulbik) dan Budi Sabarudin (moderator).

Dalam penjelasannya, Ananta menegaskan bahwa, kegiatan diskusi itu merupakan awal dari serangkaian diskusi yang secara khusus akan menyoroti bahaya laten yang dihadapi oleh Provinsi Banten, yakni korupsi, dinasti dan tirani. Dalam konteks ini, Forum Semar mendorong masyarakat untuk benar-benar menggunakan momentum pilkada untuk memilih para pemimpin Banten dan sekaligus tidak mengulangi kesalahan pada waktu lalu.

Konsultan Komunikasi Politik, Putut Prabantoro menjelaskan bahwa indikator keberhasilan Banten dalam pembangunan manusia dan fisik terletak pada Kabupaten Lebak. Selama masyarakat Lebak belum sejahtera dan belum mengenyam pendidikan, Banten belumlah berhasil meskipun di daerah lain gedung pencakar langit serta perguruan tinggi menjamur. “Sejak tahun 1860 Lebak sudah tercatat sebagai daerah miskin dan rakyat hidup dalam tekanan korupsi, dinasti serta tirani. Itu merupakan catatan sejarah dalam novel Max Havelaar tulisan Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, seorang pegawai pemerintah Belanda di Lebak,” terangnya.

“Selama buku Max Havelaar yang menjelaskan tentang kemakmuran Lebak – yang saya sebut sebagai Max Havelaar Kedua, buku Max Havelaar pertama karya Multatuli itulah yang akan senantiasa dikenang oleh dunia. Buku itu merupakan tamparan maut bagi penjajah Belanda pada waktu. Masak Banten mau mempertahankan buku Max Havelaar yang pertama ?,” ujar Putut Prabantoro.

Buku Max Havelaar kedua, yang menceritakan kesejahteraan Lebak itu, demikian konsultan komunikasi politik itu menambahkan, hanya dapat dibuat jika masyarakat Banten melawan tiga bahaya laten tersebut dengan memilih kepala daerah yang benar.

Sementara itu Subadri mengatakan, kemajuan pemerintah Banten saat ini hendaknya diteruskan dengan memastikan bahwa pembangunan fisik dan manusia tidak akan berhenti. Pilkada 2017 dianggap sebagai langkah strategis dan momentum penting bagi masyarakat Banten untuk memilih pemimpin yang akan meneruskan laju pembangunan yang sudah dicapai dalam satu tahun belakangan ini. “Menyusul tertangkapnya pemimpin Banten sebelum Rano, kemajuan pembangunan fisik di Banten dalam dua kurun waktu ini sudah dapat dilihat.  Contoh, waktu tempuh Perumahan Telaga Bestari (Cikupa) ke Malimping yang tadinya ditempuh dalam waktu lima jam dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Kondisi sepert ini tidak terlihat meski Banten sudah menjadi provinsi selama 16 tahun,” ujar anggota DPD RI ini.

Pernyataan Subadri oleh Mulyadi Jayabaya digarisbawahi dengan mengungkapkan, dirinya telah menyiapkan diri untuk melawan kembalinya bahaya laten provinsi Banten.  Tokoh Lebak  menegaskan, tidak ada alasan mengapa Banten harus kembali ke masa lalu.

Baik Subadri maupun Jayabaya sepakat bahwa Banten  harus menjadi wilayah yang hebat karena tiga hal yakni sejarah, potensi alam dan sikap pluralisme warganya.   Untuk mempercepat menuju Banten yang hebat, masyarakat tidak boleh salah pilih lagi pemimpinnya serta kembali ke masa lalu dengan membiarkan dirinya dimakan politik uang. Keduanya juga sepakat bahwa pembangunan fisik akan terus berlanjut serta berkesinambungan. Pada saat yang sama, pendidikan formal atau informal akan ditingkatkan.