Semen Indonesia Hemat Rp 2,57 Triliun karena Program Inovatif

72

MAKASAR-PT Semen Indonesia (Persero) Tbk “(SMI)” kembali menggelar Semen Indonesia Award on Innovation (SMI-AI) pada Kamis (20/2) di Makassar, Sulawesi Selatan. Ajang tahunan yang sudah dimulai sejak 2009 ini menjadi sarana beradu inovasi di lingkungan Semen Indonesia.

Direktur Utama SMI Dwi Soetjipto mengatakan, di tengah semakin ketatnya persaingan di industri semen, inovasi menjadi kata kunci yang akan membawa perseroan menggapai kinerja optimal. ”Perusahaan sebesar apa pun, jika tidak berinovasi, cepat atau lambat akan mati. Dengan inovasi, kami menciptakan dan membentuk masa depan untuk memastikan terjadinya percepatan pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis. Inovasi adalah syarat mutlak yang harus kami tumbuh-kembangkan untuk menuju SMI sebagai world class engineering company,” ujar Dwi.

Dwi mengatakan, sudah banyak kisah perusahaan-perusahaan besar dunia berusia puluhan bahkan ratusan tahun yang bangkrut gara-gara malas berinovasi, karena mereka merasa sudah jadi yang terbaik. Karena itu, perseroan terus mengembangkan budaya inovasi di lingkungan SMI agar kelompok perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara ini bisa terus tumbuh dan ke depan bisa menjadi pemain penting di kancah global.

SMI-AI yang digelar hari ini merupakan penganugerahan terhadap inovasi-inovasi yang diajukan para anak usaha dan perusahaan terafiliasi di lingkungan SMI sepanjang 2013. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri atas para pakar teknologi semen dan praktisi inovasi.

Pada 2013, terdapat 221 proposal inovasi, meningkat dibanding 2012 sebanyak 178 proposal. Potensi penghematan biaya operasional berkat adanya inovasi-inovasi tersebut mencapai Rp695 miliar pada 2013, melonjak dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 639 miliar.

Terdapat lima kategori inovasi yang dinilai, yaitu bahan baku dan produk, teknologi dan proses produksi tambang-raw mill, teknologi dan proses produksi kiln-finish mill, kategori manajemen, dan kategori anak perusahaan serta perusahaan terafiliasi.

Sejak kali pertama diselenggarakan pada 2009, ajang ini terus mendapat atensi luas dari para inovator di lingkungan SMI. Pada ajang pertama pada 2009, jumlah inovasi yang didaftarkan mencapai 111 proposal dengan potensi penghematan Rp295 miliar. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 221 proposal inovasi pada 2013 dengan potensi penghematan Rp695 miliar. ”Jika diakumulasikan selama ajang ini digelar dari 2009 sampai 2013, maka potensi penghematan biaya operasional mencapai Rp2,57 triliun. Inovasi-inovasi yang kami lakukan adalah upaya melakukan breakthrough guna menekan biaya, sehingga harga jual lebih kompetitif. Berkat inovasi pula, kinerja dan profitabilitas SMI semakin tumbuh. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan laba perusahaan per tahun mencapai 18,19 persen dan penjualan 12,56 persen,” kata Dwi.

Dwi juga menegaskan bahwa penghematan yang timbul karena inovasi diupayakan selalu lebih besar dari nilai depresiasi alias penyusutan, sehingga dampak inovasi jauh lebih signifikan dalam menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan. ”Mengakarnya budaya inovasi di SMI menjadi fondasi apa yang seringkali saya sebut sebagai realignment business process di mana pilar-pilar perusahaan terintegrasi dan bersinergi, tidak memikirkan pengembangan divisi atau departemen masing-masing,” ujar Dwi