Semester I/2016: Realisasi Pendapatan Negara 35,5%, Belanja Negara 41,5%

34

JAKARTA-Pemerintah mencatat realisasi pendapatan negara hingga semester I- 2016 mencapai Rp634.677,2 miliar atau 35,5 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2016. Angka tersebut lebih rendah sebesar Rp33.249,2 miliar dari realisasi pada semester I tahun 2015 sebesar Rp667.926,4 miliar atau 37,9 persen dari targetnya dalam APBNP tahun 2015. “Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pertumbuhan ekonomi domestik yang belum optimal, tren perlambatan ekonomi global yang berdampak terhadap rendahnya aktivitas ekspor dan impor, rendahnya harga minyak mentah dunia, penurunan permintaan dari negara maju, dan rendahnya harga komoditas dunia terutama batubara,” jelas Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat menyampaikan laporan pelaksanaan APBN Semester I Tahun 2016 seperti dikutip dari laman setkab.go.id di Jakarta, Jumat (22/7).

Di sisi belanja negara, realisasi dalam semester I tahun 2016 sebesar Rp865.354,4 miliar atau 41,5 persen dari pagu APBNP tahun 2016. Realisasi Belanja Negara tersebut secara nominal lebih tinggi sebesar Rp113.161,0 miliar dari realisasi belanja negara pada semester I tahun 2015 sebesar Rp752.193,4 miliar atau 37,9 persen dari pagu APBNP tahun 2015.

Lebih tingginya realisasi Belanja Negara pada semester I tahun 2016 tersebut, dipengaruhi oleh: a. percepatan penyerapan Belanja Pemerintah Pusat karena percepatan lelang dalam anggaran Belanja K/L ; serta b. percepatan penyerapan anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa, yaitu adanya perubahan mendasar pada penyempurnaan struktur, klasifikasi, perluasan cakupan anggaran Transfer ke Daerah dan perubahan pola penyaluran Dana Desa menjadi dua kali dalam setahun.

Adapun realisasi defisit anggaran dalam semester I tahun 2016, menurut Menkeu, sebesar Rp230.677,2 miliar atau 1,83 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Realisasi defisit anggaran tersebut lebih rendah sebesar Rp146.410,1 miliar dari realisasi defisit anggaran pada semester I tahun 2015 sebesar Rp84.267,1 miliar atau 0,73 persen dari PDB tahun 2015,” jelas Menkeu dalam buku “Laporan Pemerintah Tentang Pelaksanaan APBN Semester I Tahun 2016”  yang telah diserahkannya kepada pimpinan Badan Anggaran DPR-RI itu.

Menkeu menilai, defisit anggaran tersebut dipengaruhi oleh perlambatan realisasi pendapatan negara dan percepatan penyerapan belanja negara.

Dalam rangka menutup defisit anggaran tersebut, lanjut Menkeu, pemerintah berupaya memenuhi dari penerimaan pembiayaan anggaran yang bersumber dari utang dan nonutang.

Di sisi pembiayaan anggaran, realisasi dalam semester I tahun 2016 mencapai Rp276.587,5 miliar atau 2,19 persen terhadap PDB. “Realisasi pembiayaan anggaran tersebut secara nominal lebih tinggi sebesar Rp99.400,2 miliar dari realisasi pembiayaan anggaran pada semester I tahun 2015 sebesar Rp177.187,3 miliar atau 1,54 persen terhadap PBD,” jelas Menkeu.

Dia menambahkan, realisasi pembiayaan anggaran pada semester I dipengaruhi oleh kondisi portofolio dan risiko utang, kondisi pasar SBN, perubahan nilai tukar Rupiah, realisasi pembayaran cicilan pokok utang luar negeri dan pencairan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada organisasi/lembaga keuangan internasional untuk Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).