Semester II-2013, NPI Membaik

36

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) memperkirakan, tekanan terhadap neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2013 berkurang, kendati pada  triwulan I-2013 overall balance NPI mencatat defisit 6,6 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Prospek perbaikan NPI ini dipengaruhi membaiknya kinerja ekspor dan ekonomi global yang pada gilirannya mendukung penuruan rasio defisit neraca transaksi berjalan terhadap PDB. “Perbaikan NPI juga didorong oleh peningkatkan aliran modal masuk, terutama dalam bentuk PMA,” ujar Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo rapat pembahasan RAPBN-P 2013 di  Jakarta, Rabu (22/5).

Menurut dia, prospek perbaikan NPI sudah terlihat pada data terakhir. Pada triwulan II-2013, arus modal masuk meningkat cukup tinggi.  Hal ini ditopang oleh meningkatnya persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia seiring membaiknya prospek kesinambungan fiskal dan neraca pembayaran.  

Hingga April 2013, kata dia nilai modal asing yang masuk ke Indonesia sebesar 33,8 triliun rupiah. Selain itu, penguatan NPI juga ditopang oleh penerbitan global bond pemerintah. “Cadangan devisa pada akhir April sebesar 107,3 miliar meningkat dibanding  Maret 2013 sebesar 104,8 miliar dollar AS,” jelas dia.

Dengan prospek NPI yang membaik, Perry mengatakan stabilitas rupiah di 2013 akan terjaga 9.600-9.800 per dollar AS. “Namun dengan membaiknya kinerja NPI di triwulan II-2013, nilai tukar rupiah lebih kuat dibandingkan proyeksi sebelumnya di kisaran 9.500-9.700 per dollar AS,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kondisi ekonomi Indonesia masih dibayang-bayangi meningkatnya inflasi. Apabila kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi dilakukan maka target inflasi sebesar 4,5 plus 1 persen di 2013 bakalan terlewati.  Asesmen BI menunjukan, kenaikan BBM sebesar 2.000 rupiah per liter untuk premium dan 1.000 rupiah per liter untuk solar akan memberikan tambahan inflasi sebesar 2,46 persen.

Peningkatan inflasi ini berasal dari dampak langsung kenaikan harga BBM dan dampak lanjtannya ke barang seperti biaya transportasu dan naiknya harga pangan. “Resiko inflasi 2013 akibat penyesuaian harga memang sulit dihindari,”  kata dia.

Namun demikian, Perry memperkirakan dampak kebijakan pengurangan subsidi BBM ini bersifat sementara. “Memang dampaknya pada 2-3 bulan ke depan. Tetapi pada triwulan I-2014, inflasi secara tahunan akan kembali normal,” ujar dia.