Seminar Kartini Di Yogya: Rumah Bersama Bernama Ibu Bumi Indonesia

Seminar Kartini Di Yogya: Rumah Bersama Bernama Ibu Bumi Indonesia

97
0
BERBAGI
ilsutrasi kegiatan memperingati Hari Kartini

YOGYAKARTA-Indonesia adalah Ibu Bumi dan sekaligus Rumah Bersama bagi seluruh bangsa, ras, suku dan agama yang hidup di atasnya. Merawat dan mengasuh bangsa Indonesia dengan kasih sayang tidak peduli apapun latar belakangnya termasuk agama, suku, ras tau kelompok adalah inti dari surat-surat RA Kartini kepada para sahabatnya di Belanda yang dibukukan menjadi –  Door Duisternis Tot Licht – Dari Gelap Menuju Terang (yang kemudian diterjemahkan Habis Gelap Terbitlah Terang).

Menjadi seorang ibu adalah kehormatan dan sekaligus kemuliaan tertinggi seorang perempuan atau wanita. Dengan demikian, kehancuran dan kekacauan suatu bangsa dapat diduga terjadi karena hilangnya nilai-nilai luhur yang ditanamkan seorang ibu kedalam hidup anaknya atau sang anak mengabaikan pendidikan mulia yang ditanamkan ibu kepadanya.

Demikian ditegaskan Direktur Lembaga Laboratorium Bahasa Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta DR Kardi Laksono dan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro dalam pernyataan bersamanya terkait dengan akan diselenggarakannya seminar nasional “Refleksi Hari Kartini : Merawat Ibu Bumi Indonesia”, di Jogya, Senin (25/4).

Seminar itu sendiri akan digelar pada Rabu (27/4 ) di Hotel Gallery, Jogya dan menghadirkan empat tokoh wanita Indonesia. Mereka adalah DR. Hastanti Widhy Nugroho M.Hum (Dosen Fakultas Filasafat Universitas Gajah Mada), Dra. Sri Sumijati M.Si (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang), Umilia Rokhani S.S, M.A (Dosen ISI Yogyakarta) dan Dian Wisdianawati M.Si. (Ketua Gerakan Wanita Nusantara / Granita – Jakarta) dan seminar ini akan dipandu oleh Fuska Sani Evani (Wartawati Suara Pembaruan).

Dijelaskan oleh Kardi Laksono, jika menelusuri surat-suratnya kembali, ternyata bukan soal emansipasi yang ditekankan oleh RA Kartini tetapi soal pendidikan anak.  Kartini menulis, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901).

Penyebab kehancuran budaya yang paling utama dari sudut pemikiran Kartini  adalah tidak terpeliharanya komunikasi secara santun yang seharusnya tumbuh dalam masyarakat, yang muncul dalam hubungan yang muda dan yang tua, antara pemerintah dan rakyat, antara para tokoh nasional, antar suku dll. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu – bahasa yang menunjukkan drajat tinggi dan kesantunan utama melalui susastranya, ternyata tidak terpelihara dengan baik seiring dengan bertambah modernnya bangsa Indonesia. Dan seluruh pendidikan suatu bangsa kembali kepada kelompok masyarakat terkecil yakni keluarga dan peran seorang ibu.

Sementara Putut Prabantoro menegaskan, bahwa sejak Reformasi 1998 hingga kini, satu angkatan baru generasi Indonesia menyaksikan bangsa dan para pemimpinnya memberikan contoh yang tidak dapat diteladani. Korupsi yang dilakukan tanpa rasa malu, politik uang, komunikasi yang sangat melupakan etika, tidak ada unggah-ungguh dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah berbagai contoh buruk bagi generasi ini.  Mereka yang saat ini berusia 17 tahun dan baru masuk  ke perguruan tinggi menyaksikan fragmen kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sangat tidak patut ditiru. Mereka tidak  bisa menolak untuk tidak menonton fragmen-fragmen tersebut. “Mereka yang baru duduk di bangku kuliah pada tahun ini dalam waktu 5 tahun ke depan akan terjun ke masyarakat dengan bekerja, dalam 10 tahun selanjutnya akan memasuki kehidupan berbangsa dan bernegara secara riil. Bisa dibayangkan masa depan Indonesia, ketika mereka menjadi kader bangsa, kader partai, calon pemimpin masa depan dan kelak memegang tampuk kekuasaan?” ujar Putut Prabantoro.

Oleh karena itu, seminar yang merupakan kerjasama Lembaga Laboratorium Bahasa ISI Yogyakarta – Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dan Gerakan Wanita Nusantara (Granita) – ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada bangsa serta para pemimpinnya terhadap kemungkinan buruk yang terjadi di Indonesia pada masa mendatang. Dan, seluruh perbaikan harus dimulai dari merawat Indonesia sebagai Rumah Bersama, sebagai Ibu Bumi.